keane-1-the-star

Suatu waktu ketika masih membela Manchester United, Daily Mail melaporkan gelandang Darren Fletcher pulang ke rumah usai berlatih. Sebuah pesan masuk ke teleponnya. Fletcher membuka dan sontak mukanya dilaporkan menjadi pias.

Pesan itu datang dari kaptennya di Red Devils, Roy Keane. Isinya membuat muka Fletcher memerah karena berisi kritik tentang sikapnya dalam latihan.  “Seperti itulah, dia bagai memukul saya. Semua itu mengantar saya untuk lebih rajin berlatih di gym,” kisah Fletcher.

Pengalaman serupa hampir pasti dirasakan oleh para pemain Man. United yang bermain bersama Keane. Bentuknya mungkin bisa berbeda. Ada yang mendapat pesan seperti Fletcher. Ada pula yang dihardik secara langsung oleh Keane. Hal itu bakal diterima oleh siapa pun jika tidak menunjukkan totalitas dalam setiap kesempatan.

Begitulah Keane. Pria asal Irlandia yang mengapteni Red Devils sejak 1997 hingga 2001 ini memang dikenal galak. Dia tidak pernah segan untuk memarahi siapa pun yang dirasanya tidak serius di Man. United.

Rekan satu timnya, Gary Neville, menyebut Keane seperti seorang anjing galak. Neville pernah merasakan “gonggongannya” ketika dia tidak mau terus berlari dalam suatu pertandingan karena kelelahan. “Itu seperti menghadapi seekor pitbull yang menggeram di depan mata,” kenang Neville.

keane

Akan tetapi, “keganasan” itulah yang membuat Keane dipercaya oleh manajernya saat itu, Alex Ferguson, sebagai kapten. Ferguson menyukai jiwa kompetitif dan totalitasnya di atas lapangan. Manajer asal Skotlandia itu merasa Keane bisa merepresentasikan Man. United yang diinginkannya.

“Jika saya diminta untuk mengajukan Roy Keane untuk mewakili Man. United dalam pertandingan satu lawan satu, kami akan memenangi derby, kejuaraan nasional, lomba balap perahu, atau apa saja,” papar Ferguson menjelaskan betapa Keane tidak pernah mau kalah dalam apa pun.

Ferguson makin menyukai Keane karena begitu peduli terhadap performa semua di timya. Keane tidak mau hanya dirinya saja yang memberikan segalanya bagi Man. United. Bahkan, dia memaksa semua agar bersikap seperti dirinya. Perannya mirip seperti seekor anjing penjaga yang galak.

Bagi manajer seperti Ferguson, sikap itu merupakan keuntungan. Sebab, secara tidak langsung, semua pihak akan menaikkan standar agar tidak kena “gonggongan” Keane. Hal itu yang akhirnya dirasakan oleh rekan-rekan satu timnya sehingga mereka menaruh respek kepada Keane.

“Karunia terbesar yang dimiliki Keane adalah menciptakan standar permainan yang menuntut hal terbaik. Dia akan memandangmu dengan marah, sehingga membuatmu akan merasa bersalah telah mengkhianati dia jika tidak memberikan segalanya,” ujar Neville.

keane-2-indomanutd

SELALU MEMENTINGKAN TIM

“Kemarahan konstan” yang ada di dalam diri Keane berpengaruh positif bagi Man. United. Mau tak mau semua pihak mengikutinya untuk total demi klub. Akibatnya, Man. United di masa kepemimpinan Keane dikenal sebagai tim yang sulit ditaklukkan dan tidak pernah menyerah. Sebuah comeback dramatis pada final Liga Champions 1998-99 melawan Bayern Muenchen menjadi contoh terbaik.

Akan tetapi, temperamen tinggi yang dimiliki kerap membuat Keane sering “bermasalah” dengan otoritas. Kartu kuning atau kartu merah sudah biasa baginya. Tercatat, sepanjang karier, dia sudah mengoleksi 91 kartu kuning dan sepuluh kartu merah.

Biasanya sanksi kartu diperoleh karena permainan kerasnya. Sebagai seorang gelandang, Keane selalu berusaha memenangi perebutan bola dan tidak kompromi untuk mengamankan pertahanan timnya. Apa pun bakal dilakukannya untuk membuat Red Devils mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

 

Keane bersikap seperti itu hanya karena ingin menang. Dia paling tidak suka kalah. “Saya tidak pernah bisa menerima kekalahan. Dulu saat saya masih di sekolah atau di Rockmont (tim yang dibela Keane pada masa kecil, Red.), pelatih sampai berkata, ‘Santai Roy!’ Tapi, tidak, itu bukan diri saya. Gila memang, saya tahu itu,” kata Keane.

Sikap itu membuatnya dikagumi manajer dan rekan setim. Keane tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Salah satu penampilan Keane yang paling dikenang oleh Ferguson ialah pada leg kedua semifinal Liga Champions 1998-99 di kandang Juventus. Keane mendorong rekan-rekannya untuk berjuang meski tahu tidak akan bermain di final karena terkena kartu kuning dalam laga itu.

“Usai terkena kartu kuning yang membuatnya absen di final, dia malah meningkatkan usahanya dua kali lipat untuk membawa timnya ke final. Itulah aksi paling tidak egois yang pernah saya lihat dalam sepak bola,” kenang Ferguson.

keane-4

Meski begitu, mental pemenang dan pemimpin bukan satu-satunya kelebihan Keane. Sebagai gelandang tengah, olah bolanya memang tidak memukau. Namun, permainan simpel yang ditunjukkannya merupakan kekuatan terbaik. Dengan cerdas dan efektif, Keane bisa mendistribusikan bola dan mengatur irama permainan timnya. Ditambah dengan stamina luar biasa, Keane merupakan sosok midfielder komplet.

Tak aneh, penghargaan PFA Player of The Year dan FWA Player of The Year pernah disabetnya pada 2000. Semua itu membuktikan kapasitas Keane sebagai gelandang jempolan.

Hal ini pula yang semakin membuat Keane dikenang sebagai kapten terbaik yang dimiliki Man. United. Namun, Keane bukanlah orang yang ingin menonjol. Ketika dimintai pendapat tentang sebutannya sebagai skipper terbesar Red Devils, Keane malah menampik.

“Tidak akan ada yang mengingat saya dalam 20 atau 30 tahun ke depan. Dibandingkan dengan George Best (mantan pemain Man. United, Red.), saya tidak akan diingat. Hal itu tidak masalah. Mengapa saya harus diingat?” kata Keane.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s