Anda mungkin mengalami kejadian serupa dengan saya. Ketika tahu Anda akan berpergian ke Thailand, bisa jadi para kolega dan rekan akan menanyakan pertanyaan yang nadanya kurang lebih tiba-tiba sama. “Mau mencari ladyboy yang di sana?,” sergah mereka.

Tentu saja pertanyaaan itu hanya canda. Namun, seperti orang kebanyakan tetap saja saya mengelak meski tahu itu hanya gurauan. Saya dengan tegas menolak mentah-mentah dibilang akan “berburu” ladyboy di Negeri Gajah Putih.

Akan tetapi, mungkin lagi-lagi sama seperti orang lain, saya berbohong. Diam-diam saya penasaran dan mencari keberadaan ladyboy yang di Thailand biasa disebut sebagai katoey. Saya bahkan rela membeli tiket pertunjukan kabaret Calypso di bilangan Asiatique di Kota Bangkok untuk melihat polah mereka.

img_9183

Untuk mendapatkan tiket bukan perkara mudah. Sore itu, Sabtu (22/11/14), tiket pementasan pertama pada pukul 20.15 sudah habis. Untung saya bisa mendapatkan tiket pertunjukan terakhir pada pukul 21.45. Tapi, itu pun mesti ditebus dengan harga lumayan mahal. Saya harus mengeluarkan uang 1.500 baht (sekitar Rp603 ribu) untuk sebuah tiket.

Mendekati gedung pertunjukan, hati sempat berdebar-debar. Saya takut membayangkan bakal menjadi “korban” polah eksentrik para ladyboy. Bayangan saya, mereka mirip dengan para wanita pria (waria) di Indonesia yang sering bertingkah jahil.

Akan tetapi, bayangan itu langsung sirna begitu memasuki area gedung pertunjukan. Gedungnya luas dengan aula yang megah. Sambutan yang diberikan oleh petugas pun ramah. Kesan murahan ala waria-waria di Indonesia langsung hilang. Bahkan, terasa nuansa elegan di sini.

Keramaian tiba tiba pecah ketika pertunjukan pertama usai. Para ladyboy langsung keluar dan berjajar rapi di kiri dan kanan pintu keluar yang ada di lantai bawah. Para calon penonton seperti saya pun penasaran. Kami mendekat ke arah para katoey. Namun, mereka malah melambai-lambaikan tangan dan yang mengajak kami untuk turun.

Penonton yang keluar dari dalam gedung juga tidak langsung pergi. Mereka justru asyik selfie dan berfoto-foto dengan para ladyboy. Sesudahnya, tangan para penonton terulur memberi tips sesuka hati kepada katoey yang diajak foto.

 

SULIT DIBEDAKAN DENGAN WANITA SEJATI

Para ladyboy tampak menikmati momen ini. Mereka bergerak anggun layaknya wanita sejati. Kebetulan tampilan fisik mendukung. Harus diakui, beberapa di antara mereka sudah memiliki tubuh layaknya cewek tulen. Mereka memiliki payudara. Bokong mereka juga besar dan lingkar pinggang ramping seperti wanita.

Wajah tidak usah ditanya. Dengan riasan di wajah, sulit menyadari bahwa mereka itu bukan seorang wanita sejati. Belum lagi kulit yang mulus hasil perawatan. Semua bisa menipu Anda yang kurang jeli untuk membedakan antara katoey dan cewek tulen.

Dalam momen ini terlihat juga kondisi “metamorfosis” ladyboy. Belum semuanya sudah memiliki tampilan fisik wanita seratus persen. Ada yang jakun di lehernya masih besar. Ada pula yang tulang pipinya tetap keras seperti lelaki. Belum lagi lengan kekar yang masih terlihat. Namun, mereka tidak malu dengan kondisi. Mereka tetap bangga karena tahu suatu saat nanti pasti akan menghilangkan tanda-tanda tubuh pria di badannya.

Rekan saya selama di Thailand, Thanadej Phupomsanam, menceritakan hal menarik. Dia mengatakan tubuh katoey dapat memperlihatkan kondisi ekonominya. Bagaimana bisa? Pria yang akrab George ini menyatakan semua ladyboy berhasrat untuk memiliki badan wanita seratus persen. “Namun, belum semuanya punya modal untuk mengubah dirinya. Mereka yang sudah berpenampilan fisik wanita berarti mampu dalam segi finansial,” kata dia.

Bukan rahasia lagi, Thailand merupakan surga operasi plastik. Biaya melakukannya di sini terhitung murah dibanding di negara-negara lain. Selain itu, kualitasnya terbilang bagus. Daftar harga yang dikeluarkan Yanhee International bisa menggambarkan. Operasi termahal di sana seharga 280 ribu baht atau hanya sekitar Rp112 juta.

Tidak mengherankan, kondisi seperti ini mendorong orang-orang untuk melakukan operasi plastik. Ini pula yang dipercaya sebagai salah satu penyebab keberadaan para katoey di Negeri Gajah Putih.

Demi memenuhi hasrat memiliki tubuh wanita, para ladyboy melakukan beragam cara mulai dari operasi payudara, bokong, muka, hingga jakun. Mereka juga menyuntik hormon estrogen ke dalam tubuh. Itu pun belum cukup. Agar menjadi seperti wanita seratus persen, mereka sampai rela operasi pita suara dan mengganti alat kelamin.

img_9169

Maka, ketika di Thailand, Anda memang benar-benar harus berhati-hati dalam menilai jenis kelamin seseorang. Sulit untuk mengetahui bahwa wanita itu benar-benar wanita atau ladyboy!

Cobalah tengok kompetisi kecantikan antar-ladyboy tahunan di Thailand yang bertajuk Miss Tiffany’s Universe. Amatilah peserta beauty contest yang rutin diadakan di Pattaya sejak 2004 ini. Para katoey yang mengikutinya tidak kalah cantik dengan para wanita sejati. Bahkan, mungkin saja para cewek justru bisa iri setengah mati dengan kemolekan para ladyboy.

Oleh sebab itu, di sana memang sukar untuk membedakan wanita sejati dan ladyboy. Namun, ada tips sederhana untuk mengetahuinya. Paling mudah adalah menilai dari tampilan fisiknya. Kalau dia terlalu cantik, Anda malah harus waspada. Kalau dia sangat feminin sehingga begitu menggoda bagi pria, Anda juga tambah ekstra waspada.

Belum lagi, jika dia berpostur tinggi semampai ala model kelas dunia, makin berhati-hatilah. Terlebih lagi jika orang itu berani berpakaian seksi seperti tidak mengenakan bra ataupun memakai baju pendek. Anda patut sangsi terhadap jenis kelaminnya.

Keberadaan vagina, di tubuh mereka juga bukan jaminan mereka adalah wanita sejati. Ingat, di antara mereka banyak yang sudah melakukan operasi alat kelamin untuk mengganti gender.

Alhasil, cara paling sahih untuk mengetahui jenis kelamin hanya dengan melihat kartu tanda penduduknya. Meski tidak menghalangi kebiasaan mengganti jenis kelamin, pemerintah Thailand tidak bersedia menyediakan kolom “gender ketiga” bagi warganya. Jadi, jenis kelamin warga Negeri Gajah Putih akan tertulis sesuai dengan kondisi saat lahir. Maka, di Thailand, bukan sebuah hal aneh ketika seseorang yang punya fisik wanita seratus persen tetap akan berjenis kelamin laki-laki di tanda pengenalnya.

img_9173

TERSEBAR DI SEANTERO NEGERI

Pertunjukan kabaret akhirnya dimulai. Masuk ke dalam gedung berkapasitas 350 orang, penonton duduk dengan nyaman di ruangan berpendingin. Minuman dan makanan disajikan selama pertunjukan berlangsung.

Penampilan para katoey patut diapresiasi. Gerak tari mereka memukau, Terlihat jelas koreografi tarian benar-benar diperhatikan dan dilatih dengan serius. Suasana meriah ditunjang dengan tata lampu menarik. Sesekali gelak tawa muncul ketika adegan komedi slapstick muncul.

Pertunjukan ini memperlihatkan para ladyboy ternyata tidak menjual “kelucuan dan keanehan” diri mereka sebagaimana para banci atau orang yang berpura-pura jadi banci di sejumlah acara hiburan televisi negeri kita. Mereka memang punya kemampuan yang dijual.

Tidak aneh, di Thailand, keberadaan katoey bisa ditemui di mana saja mulai dari kota hingga pedesaan. Bahkan, dalam segala jenis pekerjaan dari pekerja kantoran, pelayan restoran, hingga pesohor Negeri Gajah Putih, ladyboy terus mewarnai.

Salah satu katoey yang terkenal ialah Nong Toom. Dia adalah ladyboy yang berhasil menjadi pemain Muay Thai papan atas. Ciri khasnya adalah mencium lawan yang berhasil dikalahkannya.

Nong Toom begitu populer. Awalnya, pemerintah Thailand berusaha menghalangi keberadaannya di arena Muay Thai. Namun, akhirnya angin berubah. Nong Toom malah dijadikan ikon penarik pariwisata dan Muay Thai oleh pemerintahnya. Kisah hidupnya sampai difilmkan pada 2003 dengan judul Beautiful Boxer.

ladyboy

DIDUKUNG MASYARAKAT TOLERAN

Perjalanan hidup Nong Toom bisa memperlihatkan sikap dan pandangan masyarakat Thailand terhadap para katoey. Warga Negeri Gajah Putih tidak pernah melecehkan. mereka. Ladyboy tetap dihargai seperti orang lain. Ambil contoh sederhana, orang Thailand suka memperlakukan katoey sebagai cewek tulen. Mereka melakukannya karena tahu bahwa sang ladyboy ingin menjadi wanita seutuhnya.

Sikap toleran masyarakat Negeri Gajah Putih sangat mendukung perkembangan katoey. Maklum saja, orang Thailand cenderung tidak mau berkonflik. Mereka pun berupaya sebisa mungkin terus menikmati hidup. Ketika ada situasi yang tidak mengenakkan, mereka biasa berkata, “Mai pen lai,” yang berarti tidak usah dipikir.

Ajaran Budha  juga sedikit banyak memengaruhi pandangan orang Thailand terhadap keberadaan para ladyboy. Di mata warga Negeri Gajah Putih, katoey tidak boleh diperlakukan semena-mena. Mereka malah cenderung mengasihani ladyboy. Ada yang percaya orang yang menjadi katoey diakibatkan oleh dosa-dosanya di masa lampau sebelum bereinkarnasai. Namun, malah ada juga yang yakin keberadaan ladyboy di dalam keluarga merupakan sebuah tanda keberuntungan.

Meski begitu, para katoey tidak selamanya menikmati kemudahan hidup di Thailand. Mudah ditemui pihak keluarga terutama ayah yang menolak mereka. Sang ayah sering merasa malu karena anak lelakinya berubah menjadi wanita. Selain itu, ketidakseimbangan emosi kerap dialami oleh ladyboy. Ini yang diyakini membuat pelaku bunuh diri di Negeri Gajah Putih  adalah para katoey.

Terlepas dari itu, kita di Indonesia bisa belajar dari sikap toleran Masyarakat Thailand. Mereka tidak menganjurkan dan mendorong seseorang untuk mengubah gendernya. Mereka pun tidak mau anak-anak mereka menjadi katoey. Namun, mereka tidak melecehkan orang yang memutuskan menjalani hidup seperti itu. Warga Negeri Gajah Putih punya kemauan besar dan kelapangan hati untuk selalu memberi respek kepada orang lain. Salut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s