Digitalisasi tengah terjadi di mana-mana. Penggunaan teknologi di semua sendi kehidupan menjadi tanda-tandanya. Salah satu buktinya dipaparkan oleh Gartner Inc. Mereka memprediksi  pada 2020 nanti, gawai yang sudah terkoneksi dengan internet akan menembus angka 26 miliar di seluruh dunia.

Transformasi digital juga terjadi di Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia  (APJII) menemukan dalam survei pada 2016 bahwa 132,7 juta orang penduduk negeri kita sudah terkoneksi dengan internet. Jumlah ini meningkat hingga 51,8 persen dibanding catatan pada 2014. Kala itu, APJII mencatat hanya ada 88 juta orang di Indonesia yang menggunakan internet.

Fenomena ini bagai bola salju. Dampaknya meluas ke mana-mana. Dunia marketing ikut terdampak. Kini, pemasaran mesti menyesuaikan diri dengan digitalisasi yang mewabah di masyarakat. Digital marketing menjadi primadona dengan content marketing sebagai salah satu bagiannya.

Praktik content marketing di Indonesia ditandai dengan kesadaran untuk menghasilkan artikel atau mengisi blog di situs perusahaan. Banyak pihak yang berusaha mencari perhatian atau menyampaikan pesan di dunia maya lewat artikel atau blog. Faktanya blogging memang berdampak besar. Content+ menyebutkan bahwa perusahaan dengan blog yang aktif menghasilkan 97% lead yang lebih banyak.

writer-1

Ketika di internal tidak ada yang kompeten, brand akhirnya memilih memanfaatkan jasa penulisan artikel yang marak. Kebetulan penyedia layanan content writer semacam ini juga tengah tumbuh berkembang.

Namun, sangat disayangkan, banyak pihak yang masih memandang remeh artikel sebagai content. Mereka mencoba mempraktikkan content marketing menggunakan tulisan, tapi tidak melakukannya secara serius dan profesional.

Hal itu ditandai dengan penghargaan rendah terhadap penulisan artikel. Fakta di lapangan sungguh miris. Jasa penulisan artikel nyaris tidak ada harganya. Mudah sekali menemukan artikel yang hanya dihargai antara lima ribu rupiah hingga sepuluh ribu rupiah. Bisa mendapat harga 50 ribu rupiah sudah bagus bagi beberapa penulis.

Penentuan harga serendah itu tidak ada salahnya. Bagi sebuah start-up yang mesti menghemat bujet, langkah tersebut masih dipahami. Namun, jika sebuah brand besar juga melakukannya, amatlah disayangkan.

Ujar-ujar Anda akan mendapatkan sesuai yang dibayar bakal berlaku.  Kalau menetapkan penghargaan terhadap artikel sebegitu rendah, maka Anda juga bakal memperoleh artikel dengan kualitas buruk.

writer-2

Perlu diketahui, di balik kegiatan menulis, banyak upaya yang mesti dilakukan. Penulis mesti melakukan riset terlebih dulu entah dengan membaca, mengamati, atau mewawancara narasumber. Bahkan, dalam mengulas sebuah produk, penulis yang baik akan benar-benar mencobanya atau memakainya.

Selain itu, ada pula skill yang tidak dimiliki oleh semua orang. Penulis yang baik mesti pintar mengatur alur tulisan supaya runtut dan mengalir. Setelah itu, kemampuan penggunaan tata bahasa yang baik juga wajib dimiliki. Pemahaman tentang EYD atau grammar di sebuah tulisan tak kalah penting. Mengabaikannya akan membuat artikel tidak terkesan profesional sama sekali.

Standar penilaian penghargaan artikel yang sebenarnya perlu dipahami. Tulisan  tidak sekadar dihargai berdasar jumlah kata atau karakternya. “Nyawa”, tata bahasa, maupun keindahannya juga mesti diperhatikan.

Ingat, persaingan di dunia digital sangat kompetitif. Tanpa content yang bermutu, orang tidak akan melirik Anda, apalagi percaya terhadap pesan yang disampaikan. Singkat kata, artikel yang dibuat bakal sia-sia belaka jika tidak berkualitas.

Kini, meski baru segilintir, sudah ada beberapa pihak di Indonesia yang menggunakan pola pikir tersebut. Mereka sudah paham dan memberi penghargaan lebih terhadap penulisan artikel. Selain diwujudkan dengan pemberian harga yang jauh lebih tinggi, mereka juga melakukan proses diskusi dan tukar pikiran dengan penulis untuk menghasilkan tulisan sebagai content yang bermutu.

Namun, pelakunya sebagian besar sebatas institusi yang berasal dari negara-negara asing. Mereka sudah sadar betapa penting tulisan yang bermutu sebagai content berkualitas, tidak seperti sejumlah pihak di sini yang masih mempraktikkan content marketing secara latah belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s