img_6733

Mendengar nama Italia, gambaran umum yang terbayang ialah sebuah negeri indah dengan orang-orang rupawan. Ini memang benar. Namun, kalau membayangkan perilaku orang-orangnya kesan yang didapat bisa berubah 180 derajat.

Orang Italia memiliki strereotype buruk. Paling besar ialah keangkuhannya. Italiano sering dituding rasialis, tidak sabaran, dan paling enggan membantu. Kalau diibaratkan, ketika bertemu dengan orang lain, kepala mereka bakal menengadah tanpa memandang sama sekali.

Gambaran miring Italiano menghantui saya ketika hendak memutuskan menjelajahi Italia pada 2012 lalu. Hati sedikit kecut bakal menerima perlakuan tidak mengenakkan di sana. Apalagi ada pengalaman buruk yang pernah menimpa teman yang melancong ke sana. Rekan mengisahkan dirinya tidak mendapat bantuan sama sekali ketika hanya sekadar menanyakan arah sebuah jalan.

Hati makin bergetar ketika mendengar ayah seorang rekan lain “dirampok” di sana. Ketika makan di sebuah restoran di Roma, orang tua teman saya itu mesti membayar senilai hampir 1,5 juta rupiah untuk makanan dua orang!

img_6965

SIAL SEJAK MENDARAT

Nasib buruk mulanya saya pikir akan menimpa diri saya selama di Italia. Menginjakkan kaki di Bandara Malpensa di Milan pada Senin (19/02/2012), pengalaman tidak mengenakkan langsung dialami ketika mengantre di imigrasi. Orang lain hanya butuh satu menit untuk cek paspor. Namun, saya harus berada di sana hingga sekitar tujuh menit.

Petugas imigrasi memandang saya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia mulai menanyakan alasan kedatangan saya. “Saya datang untuk berlibur,” jawab saya. Belum puas, dia mencecar. Pertama, dia bertanya ke mana saja tujuan saya selama di Italia. “Ke Milan, Roma, dan Venezia,” balas saya.

Mendapat jawaban itu, dia malah semakin penasaran. Dia meminta semua berkas mulai dari bukti reservasi hotel di semua tempat tujuan hingga tiket pesawat kepulangan saya ke Indonesia. Itu belum cukup. Dia juga meminta saya agar bisa menunjukkan kartu kredit.

Untunglah saya sudah menyiapkan, sehingga bisa menunjukkan semuanya. Meski terlihat belum puas, petugas tersebut akhirnya tidak punya alasan lagi untuk menahan saya memasuki Italia. Segeralah paspor saya dicap.

Satu problem selesai. Namun, masalah lain langsung datang. Awalnya, dari Bandara Malpensa saya berencana naik kereta api menuju Stasiun Milano Centrale di pusat Kota Milan untuk menuju hotel. Tapi, sial sekali, hari itu sedang ada pemogokan para karyawan kereta api seantero negeri. Alhasil, tidak ada kereta api yang beroperasi.

Bingung, namun, saya tak kurang akal. Saya berusaha mencari tahu sarana transportasi lain untuk menuju pusat Kota Milan. Seorang petugas akhirnya memberitahu agar saya menaiki bus.

Sarannya saya turuti. Saya membeli tiket bus dengan tujuan Stasiun Milano Centrale. Namun, yang terjadi di luar dugaan. Semua penumpang diturunkan di Stasiun Porta Garibaldi yang tidak saya kenal. Saya protes, namun sang sopir tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga komplain saya sia-sia.

Terdampar di tempat yang tidak saya ketahui membuat saya resah. Maklum saja, saya tidak tahu cara ke hotel dari sini. Lebih sial, saya belum memiliki SIM Card telepon Italia, sehingga belum bisa mengakses internet untuk mencari informasi.

Akan tetapi, dari sinilah awal stereotype miring tentang orang Italia mulai hilang. Ternyata mereka ramah dan ringan tangan. Begitulah pengalaman yang saya rasakan sejak di Stasiun Porta Garibaldi sampai akhir saya berkelana di sana.

Pikiran saya ketika berada di Stasiun Porta Garibaldi hanya satu, yakni berusaha mencari penjual kartu SIM Card agar telepon genggam saya bisa mengakses internet. Saya mulai bertanya ke beberapa orang. Mereka bingung karena kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris. Namun, akhirnya ada orang yang mau mengantar saya menuju toko penjualan SIM Card.

Sayangnya, nasib sial masih mengikuti. Ternyata di Italia, kartu telepon tidak bisa langsung diaktifkan. Paling cepat satu jam berikutnya baru bisa dioperasikan. Alhasil, sia-sia saja upaya untuk membeli SIM Card karena saya tetap tidak belum bisa mengakses internet.

Saya kembali kebingungan. Hingga akhirnya, saya diberi tahu oleh petugas toko bahwa ada akses internet gratis untuk turis di stasiun ini. Di sana akhirnya saya mendaftar untuk internet sehingga bisa memikirkan cara baru untuk menuju hotel yang akan saya tempati.

Waktu itu, saya memutuskan memakai taksi karena jarak tidak terlalu jauh. Sopirnya kebetulan bisa berbahasa Inggris. Dia mengantarkan saya ke hotel tanpa menaikkan harga meski tahu saya orang asing yang kebingungan.

img_6605

SERING MENDAPAT BANTUAN

Selanjutnya beragam pengalaman lain semakin memudarkan stereotype miring orang Italia. Pada Selasa (21/02/12), saya berada di Stadion Giuseppe Meazza untuk mengikuti tur stadion. Saya membeli tiket dan mengikuti arahan pemandu.

Sampai di ujung acara, seorang pemandu memanggil saya. Dia menanyakan asal saya. Setelah tahu berasal dari Indonesia, dia tersenyum dan berkata, “Apa kabar?”. Terus terang saya kaget karena dia bisa berbahasa Indonesia. Ternyata dia mengaku mempelajarinya karena kerap melihat orang Indonesia datang ke sini mengikuti tur. Kemudian, dia pun malah memberikan saya dua buah foto AC Milan secara gratis.

Keramahan Italia kembali saya alami ketika kembali ke Milan dari Kota Roma pada Kamis (23/02/12) malam. Saat itu, saya memutuskan tidak kembali ke hotel karena ingin bermalam di apartemen seorang rekan. Saya berencana naik taksi setelah turun di stasiun Metro terdekat dengan apartemen rekan.

Akan tetapi, dasar tidak tahu situasi, di stasiun itu ternyata tidak terdapat taksi. Padahal, hari sudah pukul 22.00. Stasiun mulai sepi dan dingin terasa mengigit karena salju mulai turun.

Saya berhenti di sebuah halte bus di dekat stasiun. Di sana ada dua orang wanita pekerja seks komersial (PSK). Saya mengetahuinya karena pakaian mereka “aneh”. Mereka memakai baju minim di tengah suhu yang mencapai 0 derajat celcius. Selain itu, sebelumnya rekan saya sudah mengatakan bahwa di daerah ini merupakan area prostitusi kelas bawah yang kebanyakan PSK-nya merupakan imigran asal Amerika Selatan.

Butuh untuk segera sampai ke tujuan, saya bertanya arahnya ke dua wanita tersebut. Seperti yang saya duga, mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan, mereka pun hanya bisa berbicara dalam bahasa Spanyol.

Akan tetapi, mereka berusaha keras membantu saya. Dengan bahasa isyarat, mereka menyarankan saya untuk naik bus. Namun, saya tidak tahu persis apa yang mereka katakan, sehingga saya putuskan urung ke tempat rekan saya sembari mengucapkan terima kasih.

Saya kembali ke stasiun lagi. Namun, sial, loket tiket telah tutup. Hanya ada mesin tiket otomatis. Ini pun tidak membantu karena saya tidak punya uang koin untuk membeli tiket.

Akhirnya, saya memberanikan diri bertanya ke seorang ibu yang ke luar dari dalam stasiun. Saya menanyakan arah jalan ke tujuan saya. Tak disangka, selain bisa berbahasa Inggris, dia malah berbaik hati mengantarkan saya ke jalan apartemen rekan saya.

img_6878

 

KERAMAHAN RIVAL DERBY DELLA MADONNINA

Sepak bola merupakan hal penting di Italia. Sedemikian penting, bukan satu atau kali parlemen negeri itu ribut membahas sebuah pertandingan sepak bola. Kota Milan memiliki dua tim yang dikenal memiliki rivalitas tinggi, yakni AC Milan dan Internazionale Milan. Persaingannya sedemikian sengit. Sampai-sampai kita yang di Indonesia ikut-ikutan bersitegang membela salah satu tim tersebut. Buktinya, sering tercipta perkelahian antarpenggemar kedua tim tersebut di Indonesia.

Akan tetapi, kalau datang ke Italia, penggemar Milan dan Inter di Indonesia yang berkelahi tersebut seharusnya malu sendiri. Di sini, rivalitas Derby della Madonnina memang ketat, tapi semua berjalan dalam koridor sportivitas.

Kebetulan saya menggemari AC Milan. Pada Senin (19/02/12), saya bersama rekan saya berada di Piazza Duomo. Area ini merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Kota Milan. Waktu itu, saya hendak menuju ke toko AC Milan yang disebut Milan Megastore.

Rekan saya sedikit lupa arahnya. Dia pun bertanya kepada seorang polisi arah Milan Store dalam bahasa Italia. Namun, polisi tersebut enggan menjawab. Dia mengatakan hanya mau memberi tahu kalau kami hendak ke toko Inter Milan. Usut punya usut, dia seorang penggemar Inter yang dikenal sebagai Interista.

Akan tetapi, keenggannya itu hanya sebuah canda. Dia akhirnya memberi tahu arah. Sesudah mengucapkan terima kasih, saya dan rekan beringsut menuju ke sana. Namun, belum sampai 10 meter, polisi itu berteriak, “Hei, Forza Inter!”, sembari mengepalkan tangan dan tertawa.

Saya kagum ternyata Interista ternyata tetap mau menolong Milanista. Namun, saya semakin salut karena kembali merasakannya ketika menuju pusat latihan Milan di Milanello pada Minggu (26/02/12).

Milanello terletak sekitar 40 km di luar Kota Milan. Untuk menuju ke sana, hanya ada dua sarana transportasi umum, yakni kereta api atau bus. Kalaupun mau menggunakan taksi, dijamin akan mahal karena jarak yang jauh. Saya memutuskan untuk menggunakan kereta api. Rencana saya turun di Stasiun Albizatte dan naik taksi ke Milanello dari sana.

Saat itu, salju turun dengan deras. Saya sampai Albizatte yang ternyata sebuah stasiun kecil. Saya keluar dan mendapati keheningan. Nyaris tidak ada siapa pun di sana.

Saya masuk ke sebuah toko dan mencoba bertanya di mana taksi berada. Seperti yang lain-lain, orang-orang yang ada di sana tidak bisa berbahasa Inggris. Namun, saya tahu mereka mengatakan tidak ada taksi karena ini hari Minggu. Tentu saja saya langsung bingung. Sebab, tidak ada sarana transportasi umum yang beroperasi.

Akan tetapi, akhirnya saya memutuskan berjalan kaki menuju Milanello meski jarak ke sana sekitar 4 km. Pikir saya, sudah tanggung sampai ke sini, masak gagal sampai ke Milanello. Modal saya hanya Google Map yang bisa diakses di telepon genggam saya.

img_6971

Akhirnya, saya berjalan di tengah hujan salju. Saya terus memperhatikan peta sembari melihat petunjuk jalan. Jalanan sangat sepi. Sesekali hanya ada mobil melintas.

Setelah berjalan sekitar 300 meter, saya menemukan bundaran yang terdiri lima arah. Di sana ada papan petunjuk menuju Milanello. Namun, saya ingin meyakinkannya terlebih dulu dengan bertanya ke orang lain.

Kebetulan, ada seorang pemuda yang lewat. Saya segera bertanya kepadanya arah ke Milanello. Tanpa disangka, dia bisa berbahasa Inggris. Ini sebuah keberuntungan besar.

Dia akhirnya balik bertanya tentang asal dan alasan saya hendak ke Milanello. Saya menjawab dari Indonesia dan hanya ingin melihat markas klub sepak bola kegemaran saya. “Kamu gila ya. Datang dari belahan dunia lain hanya untuk seperti itu,” katanya sambil terheran-heran.

 

Saya tertawa dan mencoba menanyakan sarana transportasi untuk ke sana. Sayang, seperti jawaban orang di Stasiun Albizatte, dia mengatakan tidak ada sarana transportasi umum ke sana. Namun, tidak saya duga, dia malah menawarkan diri untuk mengantar. Namun, dia tidak berjanji karena mesti meminta izin dengan kakeknya.

Dia berkata sebenarnya memiliki skuter. Namun, karena sedang hujan salju, kakeknya pasti melarangnya naik skuter. Dia akan mencoba meminta tolong kakeknya agar mau mengantar saya ke Milanello dengan mobil.

Untuk itu, saya diajak menuju rumahnya. Saya mengikutinya dan terus berbincang dengannya. Ternyata, dia juga seorang Interista. “Keluarga saya mulai dari kakek, ayah, hingga saya sendiri mendukung Inter. Kami turun-temurun melakukannya,” kata dia.

Kebetulan pada malam harinya akan dilangsungkan pertandingan Derby della Madonnina antara Milan versus Inter di San Siro. Kami pun saling meledek dan mencoba memprediksi hasil pertandingan. “Saya pikir Milan lebih berpeluang menang. Performa Inter sedang buruk. Namun, saya tetap berharap Inter yang menang,” kata dia sambil tertawa. Tebakan kami akhirnya terbukti salah karena pertandingan berakhir seri 1-1.

Setelah berjalan sekitar 200 meter, kami sampai di rumahnya. Saya dikenalkan ke kakek neneknya yang tidak bisa berbahasa Inggris. Beruntung sang kakek mau mengantarkan saya ke Milanello dengan mobil.

Sesampai di Milanello, saya segera mengucapkan terima kasih. Saya ingin memberi uang, namun mereka menolak. Mereka baru mau menerimanya setelah saya paksa karena saya tahu betapa mahalnya harga bahan bakar di Italia.

Pengalaman ini membuka mata saya bahwa jangan mudah percaya dengan sebuah stereotype bangsa tertentu. Italiano yang dicap congkak dan enggan membantu malah sering menolong saya dengan sukarela. Saya semakin salut karena mereka mampu menepikan rivalitas sepak bola yang sedemikian tinggi hanya untuk menolong saya. Italia memang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s