content-marketing-3

Cobalah membuka salah satu website yang Anda sukai. Bukan hal yang aneh kalau langsung disuguhi dengan iklan. Kondisi serupa juga biasa Anda dapati ketika membaca majalah atau koran, belum lagi ketika menonton tayangan televisi dan mendengarkan radio. Bahkan saat berkendara sekalipun, Anda tetap disuguhi papan reklame di sepanjang jalan.

Iklan ada di mana-mana dan Anda selalu dibombardir oleh advertising. Namun, ternyata efektivitas iklan menurun drastis. Hasil studi yang dilakukan oleh analis Rebecca Lieb untuk ScribbleLive pada 2015 menjadi salah satu bukti. Lieb menemukan bahwa orang semakin menjauhi iklan.

Secara detail, Lieb menyebutkan bahwa ketika sedang “berselancar online”, 94 persen orang berusaha menghindari pre-roll ads sebelum lima detik berjalan. Nasib tak kalah mengenaskan dialami iklan di media cetak. Lieb memperkirakan hanya 12 persen iklan di media cetak yang dilihat. Akibatnya ada dana sekitar 18,5 juta dollar Amerika Serikat (sekitar Rp247,4 miliar) yang terbuang sia-sia untuk iklan yang tidak direspons.

Sebagai praktisi pemasaran, Anda mesti memikirkan alternatif lain dalam menyampaikan pesan tentang brand Anda kepada publik. Marketer sesungguhnya bisa memanfaatkan content marketing. Inilah solusi yang diyakini oleh berbagai pihak. Jika tidak, sesuai data dari Demandmetric, mana mungkin sebanyak 78 persen Chief Marketing Officer (CMO) di Amerika Serikat mempercayai content marketing sebagai masa depan pemasaran?

MENGAPA BUTUH CONTENT MARKETING?

content-marketing-2

Para CMO menilai ada kelebihan content marketing yang penting sebagai kompensasi kejenuhan publik terhadap iklan. Untuk memahami manfaat content marketing bagi brand, Anda mesti kembali melihat siklus pembelian orang. Tahapannya berikut ini:

  1. Awareness. Fase ini terjadi ketika seseorang memiliki masalah, namun ia belum sadar bahwa ada solusi problem yang dihadapinya.
  2. Research. Masa ini hadir ketika orang tahu bahwa ada solusi terhadap masalah yang dihadapi. Ia kemudian berusaha menggali lebih dalam dengan mencari informasi detail tentang penyelesaian masalahnya.
  3. Consideration. Pada titik ini, calon konsumen mulai membandingkan berbagai solusi masalah. Ia memilah mana yang dirasa sebagai solusi terbaik dengan harga yang paling pas.
  4. Buy. Akhirnya orang mengambil putusan. Setelah menemukan yang dirasa terbaik, mereka kemudian melakukan transaksi.

Dalam siklus pembelian ada empat fase. Tidak semua perjalanan dari satu fase ke fase berikutnya mulus. Bisa saja proses terhenti di salah satu tahapan. Manfaat content marketing ialah menjembatani perjalanan siklus pembelian agar lengkap menjadi empat tahapan yang diakhiri dengan transaksi.

KOLABORASI DENGAN TRADITIONAL MARKETING

content-marketing-1

Meski iklan sudah dirasa tidak efisien, namun perannya tidak boleh dikecilkan begitu saja. Traditional marketing dan traditional advertising masih memiliki kegunaan vital dalam dua fase terakhir dalam siklus pembelian.

Iklan berupaya memberi informasi mendetail tentang produk atau layanan. Tentu saja spesifikasi, kegunaan, dan kelebihan produk atau jasa yang ditawarkan terpampang. Informasi itu mempermudah orang dalam mengambil pertimbangan.

Selain itu, dalam iklan pasti ada ajakan untuk mengambil tindakan. Ada alamat yang bisa dihubungi. Terdapat pula berbagai cara untuk melakukan transaksi. Hal ini sangat memudahkan ketika proses pembelian dilakukan.

Content marketing membantu traditional marketing sebagai pelengkap dalam siklus pembelian. Manfaat content marketing sangat terlihat dalam dua fase pertama buying cycle. Content marketing memiliki kelebihan dalam membuat awareness dan menyasar target yang melakukan riset.

Ketika mempraktikkan content marketing, Anda memproduksi content. Selanjutnya Anda mendistribusikannya lewat berbagai jalur. Content bermutu yang secara konsisten disebarkan sangat berguna untuk menumbuhkan brand awareness.

Bersamaan dengan itu, ada manfaat content marketing yang dirasakan oleh konsumen. Content mempermudah brand Anda ditemukan oleh mereka yang tengah melakukan riset terhadap solusi problem yang dihadapi.

Sesudah menarik calon konsumen dalam dua fase pembelian yang pertama, fase berikutnya giliran traditional marketing yang beraksi. Maka, transaksi yang diharapkan akhirnya terjadi.

Terlihat menarik, namun ada tantangan tersendiri ketika mempraktikkan content marketing. Perlu Anda ketahui bahwa memproduksi content yang bagus tidak cukup. Content yang diberikan mesti memberi nilai tambah bagi pihak yang ditarget. Selain itu, isinya mesti relevan dengan mereka seperti cocok dengan kebutuhannya. Bukan hanya itu saja, content mesti selaras dengan pesan yang hendak disampaikan dan tujuan brand. Jika tidak, efektivitas content marketing tidak maksimal.

 

Tertarik untuk mempraktikkannya? Marketer seperti Anda wajib menjalankannya secepat mungkin. Kalau tidak, brand Anda pasti akan tertinggal jauh dari pihak lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s