kopi-imlek-2Sebentar lagi masa Imlek akan datang. Momen yang juga dikenal sebagai Tahun Baru Tionghoa ini merupakan perayaan penting. Segelas kopi akan tambah menghangatkan suasananya.

Mirip seperti perayaan Idul Fitri di Indonesia, Imlek bagi warga etnis Tionghoa adalah masa-masa berkumpul dengan keluarga. Biasanya mereka yang berada di perantauan pulang ke kampung halaman masing-masing. Di sana mereka saling bersilaturahmi dan mengunjungi sanak saudara satu sama lain. Tentu saja ibadah untuk mendoakan leluhur juga dilakukan.

Warga etnis Tionghoa di negeri kita juga melakukan tradisi serupa. Pasalnya, tidak ada batasan agama dalam perayaan Imlek. Siapa saja boleh merayakannya karena ini sudah menjadi tradisi sejak dulu kala.

Biasanya, hal yang paling dinanti dalam Imlek ialah kehadiran hujan. Warga etnis Tionghoa percaya bahwa  hujan yang deras merupakan pertanda keberuntungan. Semakin lebat hujan, maka rezeki yang bakal mereka dapatkan kian berlimpah. Jika kondisi yang berkebalikan terjadi, maka tahun yang berat dipercaya bakal mengadang.

Kendati begitu, turun hujan atau tidak, tetap tidak mengurangi rasa gembira dalam perayaan Imlek. Bisa berkumpul bersama sanak saudara merupakan kegembiraan yang tidak ternilai. Dalam momen seperti ini, hampir dipastikan meminum kopi bisa menjadi bagiannya.

Masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia sudah membaur dengan budaya setempat. Dari tidak terbiasa meminum kopi, mereka akhirnya tergoda untuk menikmatinya. Bahkan, tidak sedikit warung kopi yang dikelola oleh warga etnis Tionghoa yang kerap dinamai kopitiam.

Menurut pemerhati masyarakat Tiongoa, Johanes Herlijanto, kopitiam merupakan warisan budaya orang Cina di Asia Tenggara. Asal katanya adalah gabungan Bahasa Melayu dan Bahasa Cina dialek Hokkian dan Amoy, kopi dan tiam. Dalam dialek Hokkian, tiam berarti toko.

kopi-imlek-1

Penyebutan kopitiam juga merujuk kepada pemilik warung kopi. Jika dimiliki oleh etnis Tionghoa, maka dinamai kopitiam. Sedangkan jika pengelolanya merupakan orang Melayu, namanya akan tetap menjadi kedai atau warung kopi.

Dalam menciptakan kopi, warga etnis Tionghoa mengikuti kebiasaan di daerah masing-masing. Di kawasan Singkawang, Kalimantan Barat, mereka memiliki kopi khas yang dinamai kopi pancung. Ini adalah cara penyajian kopi yang setinggi setengah cangkir atau gelasnya. Sementara itu, di kawasan Pangkalpinang di Bangka Belitung, ada kopi hitam pahit dan kopi susu yang dibuat dari jerigen tinggi khas warung kopi di sana.

Ketika Imlek tiba, berbagai jenis kopi akan disajikan dalam masa-masa kumpul bersama. Segelas kopi hangat akan menemani momen bercengkarama. Bersamaan dengan sesapan air kopi, mereka saling bertukar cerita suka maupun duka selama menjalani hidup. Tak jarang pembicaraan mengenai kondisi politik dan bangsa ikut mewarnai.

Apa pun itu, segelas kopi bisa menunjukkan keajaibannya. Dalam hujan yang dingin khas Imlek, kopi akan menghangatkan suasana sekaligus menambah kesemarakan perayaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s