IMG_6427

Manusia dilahirkan berbeda. Pasti tidak ada kesamaan dalam apa pun. Ini yang kerap membuat konflik terjadi. Bahkan, hanya gara-gara berbeda kegemaran terhadap klub sepak bola saja, keributan bisa muncul.

Ini bukan hal baru di Indonesia. Banyak sekali kericuhan antarsuporter tim sepak bola. Bahkan yang lucu, para penggemar klub-klub sepak bola asing di negeri kita sendiri bisa berkelahi. Padahal, tim idolanya itu berada di benua lain dengan jarak ribuan kilometer dari sini.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan kelompok suporter tertentu, saya ingat sejumlah kasus yang sampai menarik perhatian media internasional. Mereka kaget karena para oknum fans Real Madrid dan Barcelona berseteru di Jakarta. Pernah juga konflik antara oknum penggemar Juventus dan Real Madrid juga terjadi.

Saya adalah penggemar AC Milan. Saya mengakui konflik dengan oknum pendukung klub sekota, Internazionale Milan juga pernah terjadi di Indonesia. Bahkan, saat Derby della Madonnina digelar, biasanya sekarang akhirnya para suporternya menggelar nonton bareng sendiri-sendiri supaya tidak muncul kericuhan.

Namun, pengalaman yang saya rasakan ketika menyaksikan langsung laga AC Milan versus Inter di San Siro, rasanya layak dibagi. Sesudah membaca, Anda yang masih suka panas melihat suporter tim lain hingga ingin berkelahi, mungkin akan malu sendiri.

Saya datang ke Kota Milan pada pertengahan Februari 2013. Pada 19 Februari 2013, saya hendak menuju Milan Store yang menjual pernak-pernik orisinal AC Milan di kawasan Duomo. Waktu itu, saya ditemani oleh rekan yang tinggal di Milan. Ia adalah seorang atlet bulu tangkis bernama Indra Bagus Ade Chandra yang malang-melintang di belantika bulu tangkis Eropa.

Bagi dia, Milan Store sejatinya bukan lokasi baru. Sering sekali ia mengantarkan teman-temannya dari Indonesia ke sana. Namun, saat itu, ia lupa terhadap jalan yang lorong-lorong di Duomo yang mempersingkat perjalanan.

Singkat kata, kami bertemu seorang polisi. Indra kemudian bertanya arah Milan Store kepadanya dalam bahasa Italia. Tapi, tidak disangka, jawabannya mencengangkan. “Ia tidak mau kasih tahu arahnya karena Interista. Kalau toko resmi Inter, dia bakal beri tahu rutenya,” ucap Indra.

Saya jelas kaget, tapi Indra kemudian tak patah semangat. Ia memohon dengan alasan saya datang dari jauh. Saya pun berusaha membantunya dengan ikut memohon-mohon bantuan kepada sang polisi itu.

Akhirnya polisi itu luluh. Ia memberi tahu arahnya dan kami pun bergerak menuju Milan Store. Namun, baru beberapa langkah, polisi itu berteriak memanggil kami. “Forza Inter,” teriaknya sambil mengepalkan tangan dan tertawa.

Saya sebenarnya maklum dengan perlakuan sang polisi. Rivalitas Milan dan Inter sangat khas Italia. Beda dengan klub sepak bola di negara lain, di sana, persaingan antartim pakai “hati”. Istilah anak muda sekarang baper.

Namun, hanya sebatas itu saja. Boleh saja tidak suka terhadap tim yang didukung, namun biar bagaimana pun, kita semua adalah sesama manusia yang semestinya saling menaruh respek. Itu benar-benar saya buktikan ketika hendak menuju markas berlatih AC Milan di Milanello.

MENUJU MILANELLO

IMG_6974

Area Milanello jauh di luar Kota Milan. Jaraknya sekitar 40 kilometer. Untuk mencapainya, saya harus menaiki kereta dan turun di sebuah stasiun bernama Albizzate Solbiano Arno. Dari sana, Toel Maldini yang kini menjadi Presiden Milanisti Indonesia pernah menyarankan saya untuk naik taksi.

Kala itu, salju turun dengan deras. Februari masih merupakan masa winter di sana. Suhu jelas dingin menggigil, apalagi bagi orang Indonesia seperti kita. Seingat saya suhunya sampai di bawah nol derajat celcius.

Pada 24 Februari 2013, saya tiba di Stasiun Albizzate Solbiano Arno. Malam harinya akan digelar Derby della Madonnina di Stadion Giuseppe Meazza. Saya pun turun dari kereta.

Namun, suasana begitu sepi. Tidak ada siapa pun di sana. Saya akhirnya menuju ke sebuah bar yang ada di depannya untuk bertanya tentang taksi. Dengan bahasa isyarat karena sang penjaga bar tidak mengerti bahasa Inggris, dia menyatakan bahwa taksi libur karena saat itu hari Minggu.

Sial sekali, pikir saya. Dia bilang tak ada sarana transportasi lain ke Milanello kecuali taksi. Namun, karena sudah sampai sana, saya akhirnya memutuskan untuk nekat berjalan kaki menuju Milanello.

Pegangan saya hanya Google Map. Ditunjukkan jarak yang harus saya tempuh sekitar 4,6 kilometer. Berjalan kaki butuh waktu sekitar satu jam lebih. Akhirnya saya nekat melakukannya. Sudah kepalang basah, sampai di Italia tidak ke Milanello.

Saya pun mulai berjalan. Salju turun dengan deras. Suasana sepi dan hanya ada sesekali mobil yang melintas. Setelah beberapa ratus meter, saya menemukan bundaran dengan enam jalan berbeda. Ada petunjuk ke masing-masing arah, namun demi meyakinkan arah saya benar, saya bertanya kepada seseorang remaja pria yang kebetulan tengah berjalan bersama kekasihnya.

Beruntung ia bisa berbahasa Inggris. Terus terang, namanya saya lupa karena nomor teleponnya hilang bersama dengan pergantian telepon genggam yang saya lakukan. Ia kemudian bertanya mengapa saya mau ke Milanello. “Saya menyukai AC Milan,” kata saya.

Ia tertawa dan geleng-geleng kepala. “Kamu gila. Jauh-jauh dari belahan dunia lain cuma mau ke sana,’ ujarnya.

KEMANUSIAAN BERBICARA

IMG_6588

Saya hanya tertawa dan bertanya arahnya karena saya bercerita akan berjalan kaki di sana. Ia malah meminta saya untuk jangan melakukannya karena cuaca yang sedang buruk. Ia justru mengaku hendak meminta bantuan kakeknya untuk mengantarkan saya dengan mobil.

“Saya sebenarnya punya skuter, tapi tidak kakek nenek saya pasti tidak memperbolehkan saya mengantarmu karena salju sedang turun,” ucapnya.

Tentu saja saya mau. Bahkan, saya bilang akan rela membayar. Namun, ia enggan membicarakannya. Ia kemudian berbicara kepada kekasihnya yang ditinggalnya di sebuah supermarket di dekat bundaran tersebut.

Kami berdua pun akhirnya berjalan ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, akhirnya ia mengaku dirinya seorang Interista. “Saya pendukung Inter. Kakek, ayah, dan semua keluarga kami adalah Inertisti,” ucapnya.

Akhirnya kami berdua membicarakan laga antara Milan dan Inter yang akan digelar nanti malam. Ia memprediksi Inter akan kalah karena performa I Rossoneri tengah membaik.

Tak terasa, kami sampai di rumahnya. Ia menjelaskan situasinya kepada sang kakek. Ia mengajak saya ke garasi dan sang kakek menyalankan mobilnya. Akhirnya saya diajak naik mobil.

Kemudian tibalah saya di Milanello. Saya mengambil beberapa foto kemudian melihat situasi. Saya sempat bertanya kepada penjaga bahwa para pemain tengah melakukan sesi taktikal di dalam ruangan.

Akhirnya saya sampai ke Milanello dan kembali ke Stasion Albizzate Solbiarno Arno. Saya bertanya berapa harga yang harus saya bayar. Ia tidak mau dibayar, begitu pula kakeknya. Namun, karena pertolongannya begitu tulus, saya menyisipkan sejumlah uang kepada mereka. Nilainya pasti tidak sebanding dengan pertolongan yang mereka berikan.

Malam itu Derby della Madonnina digelar. Hasil akhir 1-1, namun saya tidak merasa kecewa. Pasalnya, kejadian tadi siang membuat saya sadar bahwa rivalitas dalam sepak bola sepanas apa pun, tidak boleh kalah dengan kemanusiaan.

Saya melihat juga sebelum menuju stadion ataupun ketika di dalamnya. Interisti berjalan bersama-sama dengan Milanisti dengan santai. Di dalam stadion, kecuali di Curva Sud dan Curva Nord, kedua suporter duduk bersama-sama.

Mereka memang bereaksi dengan panas atau malah saling ledek di dalam lapangan. Ketika ada pemain lawan melanggar pemain tim kesayangannya, chant ejekan dilontarkan. Tapi hanya sebatas itu, meski suasana benar-benar panas. Bahkan, berdasar pengalaman saya menonton pertandingan klub-klub Eropa, orang Italia yang paling baper di dalam pertandingan sehingga suasananya luar biasa.

Hasil imbang akhirnya bukan masalah. Saya sadar perbedaan itu adalah hakikat setiap orang. Tinggal pengelolaannya yang penting. Silakan saja Anda berbeda dalam apa pun, namun, perlu disadari bahwa kita sama-sama manusia yang seharusnya menjunjung tinggi kemanusiaan.

Lagi pula, ada satu hal konyol. Tiga hari sebelumnya saya sudah menyaksikan AC Milan mengalahkan Barcelona yang diperkuat Lionel Messi, Andres Iniesta, hingga Xavi Hernandez. Bagi saya itu sudah cukup karena Milan saat itu sudah seperti sekarang, bukan lagi tim elite yang bermain di level atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s