Problem Asam Lambung 1

Menjalani prosedur pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG), tidak semua orang pernah mengalami. Saya malah sudah tiga kali. Namun, jika biasanya EKG digunakan untuk mendeteksi problem jantung, saya melakukannya karena punya masalah asam lambung akut.

Pengalaman EKG saya untuk pertama kalinya cukup menegangkan. Suatu malam, saya sedang di Central Park Mall. Setelah makan, saya merasa mual dan dada saya terus berdebar-debar. Sensasi aneh saya rasakan di tangan.

Saya sadar punya problem asam lambung, namun biasanya tidak pernah seperti ini. Paling sering hanya mual seperti perasaan mabuk kendaraan atau malah muntah. Perut perih hingga tidak bisa berdiri karena ulu hati seperti ditonjok juga sudah pernah saya rasakan terkait masalah tersebut.

Tentu saja saya khawatir. Segera saya menyetir kendaraan sendiri menuju RS Siloam Kebon Jeruk. Bagi Anda yang berdomisili di Jabodetabek pasti tahu betapa padat jalanan saat jam pulang kerja.

Sampai di sana, saya langsung menuju Instalasi Gawat Darurat (IDG). Dokter menduga ada problem di asam lambung, namun demi antisipasi, EKG dijalani.

Menunggu hasilnya menegangkan, tapi ternyata jantung saya baik-baik saja sehingga saya diberi penanganan untuk asam lambung. Setelah itu, saya tahu bahwa problem asam lambung memiliki gejala yang hampir sama dengan masalah jantung.

Hampir dua tahun tidak pernah kambuh lagi, sekitar Februari 2017, saya merasakannya lagi. Hampir setiap sore saya merasa salah satu di antara mual, kembung, atau dada berbedar, hingga heartburn.

Perasaan itu berlangsung hampir sebulan dengan intensitas kemunculan hampir tiap hari. Lama-lama saya merasa terganggu sehingga memutuskan untuk berobat hingga sembuh. Saya berkonsultasi dengan dr. Epistel Simatupang di RS Siloam Kebon Jeruk. Akhirnya ia menyarankan untuk melakukan proses Endoscopy.

Bagi yang belum pernah melakukannya, ini adalah prosedur memotret bagian lambung. Caranya dengan memasukkan selang lewat mulut. Waktu itu, ada dua pilihan antara bius total atau bius lokal. Suster menanyakannya kepada saya. Saya pun bingung sehingga meminta dr. Epistel yang memutuskan.

“Bius lokal saja, Anda kan masih muda. Santai saja,” katanya.

Ternyata itu pilihan yang salah. Meski hanya sekitar enam menit saja, namun itu bagai neraka bagi saya. Tidak ada rasa sakit ketika selang dimasukkan ke mulut, namun reaksi otak bawah sadar yang menolak keberadaan selang sungguh menyiksa.

Saya mau muntah tapi tidak bisa karena mulut saya diberi penahan khusus. Maka, saran saya, jika harus melakukan Endoscopy, lebih baik bius total biar tidak trauma!

 

KONDISI LAMBUNG NORMAL

Problem Asam Lambung 2

Hasilnya kondisi lambung saya baik-baik saja. Tidak ada luka, hanya gastristis ringan. “Tapi produksi asam lambungnya memang banyak sekali,” kata dr. Epistel. Ia kemudian meresepkan obat, namun dengan pesan hanya diminum ketika merasa problem asam lambung terasa.

Namun, keluhan yang saya rasakan masih ada. Bahkan, makin parah. Saya sudah tidak kuat untuk duduk karena merasa sangat mual.

Saya segera mencari pendapat dokter kedua. Kali ini saya berkonsultasi dengan dr. Deskian Kostermans di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Berbekal hasil tes awal di RS Siloam Kebon Jeruk, dr. Deskian meminta saya melakukan tes darah. Ia memberikan obat tambahan sembari meminta semua obat yang diberikan dr. Epistel diminum.

“Butuh waktu lama untuk menurunkan asam lambung. Bahkan, bisa jadi ada yang harus mengonsumsi obat selama dua bulan,” katanya.

Tes darah saya lakukan setelah berpuasa. Namun, hasilnya baru ketahuan beberapa hari berikutnya. Saat menunggu itulah, dua kali proses EKG kembali saya jalani karena ada “serangan” yang luar biasa.

Saat itu, setiap bangun tidur, saya merasa mual. Perasaan itu muncul setiap saat naik turun hingga tidur. Suatu ketika saya membuka mata. Tiba-tiba dada saya berdebar-debar. Saya sudah tahu ini asam lambung, tapi mendadak kedua tangan saya kesemutan. Saya kaget karena sering membaca literatur bahwa asam lambung tidak disertai sensasi rasa apa pun di tangan.

Saya langsung mengajak istri ke RS terdekat di rumah. Ia juga sempat panik karena saya merasa ini bukan serangan biasanya. Waktu itu, hujan deras dan orang-orang siap berangkat kerja. Istri saya menemukan tetangga depan rumah, Pak Medi, yang bersiap naik motor mengantar anaknya sekolah. Istri saya meminta tolong mengantar saya ke RS.

Sungguh baik pak Medi mau membantu. Di tengah hujan, saya diantarnya menuju RS Sari Asih di Ciledug. Di IGD, saya malah dicibir oleh suster. Namun, akhirnya saya diberi tempat untuk tidur dan setelah beberapa waktu, proses EKG dilakukan.

Waktu itu dokter yang berjaga menyatakan jantung saya baik-baik saja, namun saya tidak yakin. Saya minta pindah ke RSPP sambil berniat kontrol sesuai jadwal konsultasi ke dr. Deskian.

Beruntung saya cepat mendapatkan pengendara Uber yang sangat baik. Ia mau bergegas setelah saya paparkan kondisi saya. Kami melewati gang-gang kecil untuk menghindari kemacetan jam berangkat kerja untuk menuju RSPP.

Di RSPP, saya langsung disambut dan diberi penanganan. EKG kembali dijalani dan hasilnya jantung saya baik-baik saja. Ketika akhirnya hasilnya tes darah yang saya lakukan dibaca oleh dr. Deskian, ia menyatakan bahwa kondisi tubuh saya baik. Level kolesterol, asam urat, diabetes, hingga fungsi ginjal saya baik-baik saja.

Namun, istri saya menanyakan tentang fungsi liver saya. “Baik saja, ini terlihat dari data indeks darah sitrat yang normal. Mungkin, tadi pagi itu cuma panik,” kata dr. Deskian.

Ia kemudian menganjurkan untuk tes fungsi Tiroid. Caranya dengan tes darah dan hasilnya seperti yang lain. Semua baik-baik saja. Saya akhirnya hanya diminta mengonsumsi obat yang diberikan sampai habis. Lambat laun memang kondisi membaik, namun perkembangannya begitu pelan. Ini membuat saya tak puas dan segera mencari-cari informasi penyembuhan problem asam lambung.

MENEMUKAN TERAPI AKUPUNKTUR

Problem Asam Lambung 3

Saya kemudian menemukan berita bahwa asam lambung bisa disembuhkan dengan akupunktur. Saya menemukan wawancara dr. Ainil Masthura di sebuah media online yang akhirnya saya pilih untuk berkonsultasi.

Ia berpraktik di RS Evasari Awal Bros di Rawasari. Saya datang bersama istri menjelaskan kondisi saya sambil membawa hasil diagnosis dokter serta berbagai tes yang dilakukan.

Dokter Ainil akhirnya menjelaskan akan melakukan terapi dengan menjelaskan prosedur dasar akupunktur. Ini sebenarnya sebuah metode tradisional asal Tiongkok. Namun, sekarang sudah masuk ke ranah medis. Sistem kerjanya sesungguhnya ialah memperbaiki fungsi dan kerja organ tubuh dengan merangsangnya lewat tusukan jarum.

Saya mau saja karena ingin sembuh. Lagi pula, saat itu, dr. Ainil lumayan “senang” dengan kehadiran pasien seperti saya. “Biasanya yang datang hanya orang yang ingin terapi kecantikan. Padahal, saya mengambil spesialias akupunktur untuk menolong orang sakit. Sampai-sampai saya minta RS melakukan promosi soal hal tersebut,” ucapnya.

Beberapa titik tubuh saya seperti bagian kepala, dada, ulu hati, tangan, hingga kaki ditusuk oleh jarum. Namun, anehnya tidak sakit sama sekali. Padahal, tusukannya dalam. “Kalau sakit berarti titiknya tidak pas, “ papar dr. Ainil.

Setelah itu, beberapa jarum di titik-titik tertentu, dihubungkan dengan kabel. Lalu ada semacam aliran listrik yang dinyalakan. Hasilnya ada sensasi unik di titik yang ditusuk. Misalnya tiba-tiba kaki saya bergerak-gerak sendiri.

Langkah itu dilakukan sekitar 25 menit. Bersamaan dengannya, perut saya dipanasi dengan alat pemanas TDP. Selama itu, saya dan istri bertanya-tanya tentang cara kerja akupunktur. Dokter Ainil dengan sabar melayani beragam pertanyaan dan saya kagum karena semua jawabannya logis sesuai dengan sejumlah literatur dan penjelasan dokter-dokter lain yang saya tahu.

Jadi, pada intinya, dr. Ainil memaparkan bahwa pada dasarnya proses akupunktur itu seperti mendatangkan “pasukan tubuh” untuk memperbaiki diri sendiri. Caranya ialah mengundang mereka datang dengan cara “menyakiti” titik tertentu. Saat itulah, dr. Ainil mengilustrasikan bahwa “pasukan” itu merasa ada “serangan” ke tubuh ketika akupunktur dilakukan. Mereka berusaha melawan. Saat itulah proses perbaikan fungsi dan kinerja organ tubuh dilakukan.

Hasil yang saya rasakan luar biasa. Perasaan mual saya benar-benar hilang sehari setelahnya. Hanya tinggal sensasi nyeri di berbagai titik secara bergantian. “Itu gas yang berlarian ke berbagai area tubuh,” ujar dokter Ainil dalam konsultasi kedua.

Namun, ia meminta saya untuk berhenti meminum obat dari dokter Deskian. Dokter Ainil ingin menguji bahwa rasa mual itu benar-benar hilang akibat akupunktur, bukan kinerja obat.

Ternyata saya tetap tidak mual. Bahkan, sedikit demi sedikit, porsi makan saya mulai bertambah. Selain itu, “sensor lapar” saya mulai aktif. Dulu saya tidak pernah merasakan perasaan tidak enak ketika lapar seperti orang kebanyakan. Ada orang yang perutnya perih, gemetar, atau mudah marah ketika perutnya memohon diisi. Saya tidak sama sekali. Ketika rasa lapar saya lewat, ya sudah. Tidak ada rasa apa pun yang rasakan.

Namun, sesudah menjalani akupunktur, saya sempat merasa perih di bagian perut, gemetar, hingga dada berdebar ketika perut minta diisi. Sesudah diberi makan, semua baik-baik saja. “Itu tandanya ‘klep’ penghubung lambung dan tenggorokan mulai normal,” ujar dr. Ainil.

 

TERINDIKASI NERD

Problem Asam Lambung 4

Masalah asam lambung akut memang bisa menghadirkan penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang gejalanya mirip yang saya rasakan. Namun, anehnya, tidak ada luka di kerongkongan saya sehingga dicurigai terkena versi barunya, yakni Non-Erosive Reflux Disease (NERD). Anda bisa mencari sendiri perbedaan kedua jenis problem asam lambung tersebut.

Singkat kata, sesudah terapi ketiga, saya diminta berhenti karena kondisi saya sudah membaik. Namun, saya tetap datang untuk terapi keempat demi memastikan perkembangan terakhir. Lagi pula lebih baik tuntas semua.

Akhirnya saya hanya perlu menjaga pola makan. Kini, saya selalu membawa bekal seperti anak TK. Isinya buah-buahan atau makanan untuk dijadikan kudapan setiap satu atau dua jam sekali.

Selain itu, saya tidak makan dengan porsi banyak. Untuk sementara, saya juga menahan diri untuk tidak mengonsumsi berbagai makanan yang mendorong produksi asam lambung, meski para dokter tidak melarang saya makan makanan tertentu.

Belakangan saya bersyukur bahwa saya dikaruniai penyakit NERD. Mungkin ini cara Tuhan membuat saya agar mau menjaga kesehatan karena saya sering mengonsumsi buah, sayur rebus tanpa bumbu, dan ikan yang digoreng atau cuma dipanggang saja. Makanan berlemak saya hindari sekali.

Saya sangat berterima kasih kepada dr. Ainil yang menolong saya sehingga problem asam lambung saya berkurang drastis.  Bagi yang punya problem sama, saya sarankan untuk mencoba akupunktur yang ternyata membantu pemulihan.

Namun, saran saya, lebih baik tetap menjalani pemeriksaan ke dokter spesialis gastroentrologi lebih dulu agar menemukan problemnya. Setelah itu baru datang dokter spesialis akupunktur seperti dr. Ainil agar terapi yang dilakukan tepat.

Terlepas dari itu, hingga kini saya masih penasaran mengapa produksi asam lambung saya begitu banyak. Saya membaca ada kemungkinan itu faktor genetis karena ada riset yang memperlihatkan banyak penderita yang berasal dari keluarga yang sama.

Saya segera ingat kedua orang tua, adik, hingga keponakan saya juga punya problem sama. Namun, dari literatur itu, semua baru hipotesis karena belum ada penelitian secara khusus tentang jenis gen penyebabnya.

Andai saja faktor genetis itu tingkat produksi penghasilan yang tinggi. Tentu saja saya akan kaya-raya. Namun, biarpun tidak begitu, saya tetap mensyukurinya. Saya akan hidup dan bersahabat dengan problem asam lambung ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s