Timo Scheunemann

Senyum mengembang dari bibir pria kaukasoid bernama Timo Scheunemann itu. “Apa kabar?” katanya dalam bahasa Indonesia yang lancar sambil menjabat tangan. Siang itu, Rabu (16/6/2012), suasana lobi kantor Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang berada di bilangan Senayan, Jakarta, sudah ramai.

“Seharusnya acara sudah dimulai. Tapi, mesti mundur karena masih menunggu kehadiran wakil dari Menpora,” ujar Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI itu.

Bagi pria yang akrab dipanggil Coach Timo tersebut, hari itu sangat spesial. Sebentar lagi, dia akan meluncurkan buku Kurikulum dan Pedoman Dasar Sepak bola Indonesia yang disusun dan ditulisnya selama empat bulan.

Arti buku itu sangat penting. Bukan hanya bagi dirinya, sepak bola Indonesia juga membutuhkannya sebagai acuan pembinaan bibit muda. “Buku ini berguna bagi seluruh pelatih di Indonesia, terutama di tingkat Sekolah Sepak Bola (SSB) yang belum memiliki pedoman kurikulum kepelatihan,” kata Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, Rabu (16/6).

Buku itu hanya sedikit dari sumbangan Timo kepada sepakbola Indonesia. Di tengah karut-marut sepakbola nasional, sejak dulu, dia konsisten berada di “jalur bawah”. Timo tak pernah lelah mengembangkan bibit-bibit sepak bola lokal ketika insan sepak bola lain di Indonesia tengah sibuk berebut kekuasaan.

 

HINGGA KE PELOSOK DESA

Kiprahnya dimulai dari tempat tinggalnya di Malang, Jawa Timur. Sejak 2000, dia mendirikan Malang Football Club. Tidak seperti SSB lainnya, Malang FC sungguh spesial karena gratis. Bahkan sejak 2006, tersedia asrama untuk para siswanya.

Untuk mencari siswa, Timo sampai rela menjelajah Tanah Papua. Dengan bantuan salah satu kakaknya, Rainer Scheunemann yang menjadi pendeta di sana, Timo mulanya berhasil membawa empat orang anak. Mereka dibawa ke Malang untuk berlatih sepak bola dan mencari pendidikan formal. Hebatnya, Timo melakukannya dengan biaya dari kantong sendiri, meski dompetnya tidak tebal.

Timo juga ikut menggagas lahirnya Liga Charis di Malang. Kompetisi ini diperuntukkan bagi pemain U-14 di kawasan Malang. Turnamen itu bergulir antara tahun 2002 dan 2008.

Sekretaris Pengurus Cabang PSSI Kota Malang, Haris Tofly, mengakui sumbangan Timo ke perkembangan sepak bola di daerahnya sangat besar. Di tengah kesibukannya mengajar filsafat, geografi, dan sejarah di Wesley International School Malang.

“Peran terbesarnya terletak di pembinaan usia muda. Pemain didikannya banyak yang menjadi tulang punggung Persema. Selain itu, dia juga aktif melatih tim sepak bola wanita dan futsal,” kata Haris Tofly.

Sebagai pengajar, Timo memiliki kelebihan dalam berkomunikasi dengan anak didiknya. Menurut Haris, Timo bisa dengan mudah mentransfer ilmu yang dimilikinya. Ini membuatnya sering diminta melatih ke mana saja. Apalagi ia dikenal ramah dan mudah bergaul.

“Timo sering melakukan coaching clinic hingga pelosok desa. Dia mau membagi ilmunya, meski hanya ke pelatih yang tidak punya sertifikat,” papar Haris.

Keseriusan Timo untuk menekuni pembinaan usia dini dibuktikan dengan menuntut ilmu kepelatihan ke Amerika Serikat dan Jerman. Hasilnya, pada 2007 ia mengantongi sertifikat melatih Lisensi UEFA A yang didapatnya dari Deutscher Fussball Bund (DFB).

Tak hanya dalam kepelatihan, dalam teori tertulis pun Timo menunjukkan kualitasnya, antara lain dengan menerbitkan tiga buah buku tentang teknik sepakbola. Dasar Sepakbola Modern (Dioma Publishing, 2005), 14 Ciri Sepakbola Modern (2007), dan Futsal for Winners (2009).

Ketika reputasinya makin dikenal, PSSI di bawah pimpinan Djohar tak ragu untuk menunjuknya sebagai Direktur Pembinaan Usia Muda, posisi yang memungkinkan Timo mengembangkan sayapnya.

 

NASIONALISME PRAKTIS

Timo Scheunemann 1Ketua Asosiasi Sekolah Sepakbola Indonesia, Taufik Jursal, menilai Timo sebagai orang berdedikasi. Secara khusus, dia angkat topi terhadap keseriusan Timo dalam mengembangkan potensi para pemain muda Indonesia. “Dia bukan orang Indonesia. Tapi, kepeduliannya ke pembinaan pemain belia di negeri ini luar biasa,” tutur Taufik.

Darah Jerman memang mengalir kental di tubuh Timo. Sampai kini, dia pun masih terhitung sebagai warga negara Jerman. “Meski begitu, saya cuma tiga tahun di sana. Saya tidak betah tinggal di Jerman,” aku Timo.

Hal itu bisa dimaklumi. Timo lahir di negeri ini, tepatnya di Kediri pada 29 November 1973. Dia pun besar di Indonesia. Empat kakaknya pun menghirup udara pertamanya di negeri ini. Hingga kini, tiga di antaranya juga masih bertahan. Timo sudah jatuh cinta pada Indonesia. Dia merasa terpanggil untuk memberikan sesuatu. Apalagi dia punya prinsip tersendiri tentang nasionalisme.

“Bagi saya, nasionalisme adalah nasionalisme praktis. Berbuat sesuatu yang bisa kita perbuat,” kata Timo. “Saya tahu bahwa kulit saya tidak gelap. Orang-orang pun kerap memanggil saya Mister dan berbahasa Inggris dengan saya. Terkadang ketika perayaan hari kemerdekaan Indonesia, anak-anak di desa sering meneriaki saya, ‘Dor- dordor.’ Mungkin di pikiran mereka saya serdadu Belanda yang harus diusir. Tapi, yang pasti, Indonesia adalah bagian dari hidup saya.”

Ucapan Timo menohok muka para elite sepak bola Indonesia yang tengah bertikai. Sebagai orang asing, dia malah memberi sumbangan besar kepada negeri. Sedangkan yang lain malah berebut kekuasaan dan mengklaim menjadi pihak yang paling benar.

 

BULE NDESO BERSAHAJA

Timo Scheunemann dikenal sebagai sosok yang sederhana. Ketua Umum PSSI Djohar Arifin menyebutnya sebagai bule ndeso karena demikian bersahajanya Timo. Kepribadian itu adalah buah dari didikan kedua orangtuanya.

Ayah Timo adalah seorang pendeta. Bersama istrinya, dia masuk ke Indonesia untuk melakukan pelayanan rohani pada 1955. Semasa hidup, mereka selalu mengajari Timo dan saudara-saudaranya agar bisa bergaul dengan siapa saja.

“Orangtua meminta saya untuk membaur dengan warga desa. Apa pun tidak boleh berbeda dengan orang lain. Jadilah saya bermain dan sekolah bersama-sama dengan warga desa tempat tinggal saya,” kata Timo.

Lambat laun dia menemukan kenikmatan tinggal di Indonesia, terutama di pedesaan. Tak aneh, Timo menolak jika diminta tinggal di kota. Katanya, “Saya ini orang desa. Saya tidak mungkin bisa hidup di Jakarta.”

Dia juga tidak pernah bisa lepas dari keluarganya. Timo mengaku sangat sulit untuk berpisah dari istrinya, Devi Scheunemann, dan dua orang anaknya, Shania Cinta Scheuneumann dan Brandon Marsel Scheuneumann. “Tiga hari saja berpisah, saya sudah kelabakan. Maka, saya kagum dengan para pelatih asing di Indonesia yang bisa berlama-lama berjauhan dengan keluarga,” ucapnya.

Kesederhanaan Timo rupanya berbuah baik. Ia selalu bisa menjaga prinsip dan idealismenya di tengah panasnya konflik elite sepakbola Indonesia. Apalagi, dukungan sang istri sangat besar.

“Saya beruntung istri saya tidak materialistis. Dia tidak pernah menuntut apa pun. Tidak peduli saya digaji Rp5 juta atau Rp25 juta sebulan, jika prinsip saya dikekang, saya bisa pergi sesuka hati. ” tutur Timo.

Ah, andai para petinggi di negeri ini bisa mengikuti prinsip Timo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s