IMG_20170517_175630

Sebelum memulai perbincangan di kantornya di Cirendeu, Tangerang Selatan, pada Rabu (17/05/2017), pemilik HRA Group, Heri Cahyono mengajak untuk melihat sebuah motor trail.

“Saya hendak memakainya untuk menjelahi kawasan Gunung Halimun selama beberapa hari. Di sana tidak ada yang berani lewat kecuali pemangku adatnya. Namun, saya mau mencobanya sendiri,” kata Heri.

Sembari berjalan masuk ke kantor, Heri bercerita bahwa dirinya memang sering menjelajah seorang diri. Ia pernah berkeliling Eropa dengan motor dan baru saja kembali dari Bali dan Lombok dari kegiatan serupa.

Masuk ke dalam kantor, keseriusan Heri untuk menjelajah terlihat. Beberapa peralatan untuk memasak di alam telah disiapkan. Begitu pula helm maupun alat pengaman lain. Dari situ tergambar karakternya yang pemberani. “Padahal, dulu zaman kecil, saya penakut. Dalam kondisi gelap saja takut. Tapi, kini, saya telah berubah,” ucapnya.

Keberanian Heri dibuktikan ketika memilih ke luar dari pekerjaannya sebagai sebuah kepala bengkel untuk memulai usaha sendiri pada 2001. Sebelumnya, pria asal Malang ini bekerja menjadi mekanik dari 1997 hingga 2000 di Jakarta.

Bengkel tempatnya bekerja menahan untuk tidak pergi hingga menawari gaji tiga kali lipat. Bahkan, ada pula orang yang menawarinya kesempatan untuk mengelola bengkel. Namun, Heri bergeming. Pendiriannya sudah bulat. Ia ingin membuka usaha sendiri.

Awal merintis kerja tidak mudah. Permodalan menjadi masalah klasik.  Semua pengajuan kreditnya di bank ditolak. Namun, saat itu, “manajemen Tuhan” mulai diikuti oleh Heri.

Secara singkat, sebagai muslim, Heri yakin Allah telah mengatur semuanya. Manusia seperti dirinya hanya dituntut untuk berusaha sembari menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa. Namun, manusia dianugerahi otak untuk berpikir. Itu yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin kala berikhtiar.

Selain itu, Tuhan juga mengajarkan untuk menjalin relasi yang baik dengan sesama. Ini yang akhirnya membuka jalan bagi Heri. Mengandalkan silaturahim apik, Heri bisa mendapatkan modal untuk memulai usahanya.

Seorang rekan menolongnya untuk menjaminkan jabatannya sebagai manajer agar Heri bisa membeli peralatan kerja untuk bengkel.  Kala itu, kuasa Tuhan bekerja. Pria yang tumbuh dalam keluarga 12 bersaudara ini bisa mencicil, meski seharusnya pembelian harus kontan.

Ketika bengkelnya mulai, hasil yang diperoleh minim. “Saya hanya mendapatkan penghasilan bersih Rp240 ribu per bulan dari Rp500 ribu secara total,” kisah Heri. Tapi, lagi-lagi ia tak menyerah, Sembari berserah diri, Heri memutar otak untuk mengembangkan usaha.

Tak disangka, Heri menemukan pasar besar yang tengah “tertidur” sesudah menemui seorang rekannya di sebuah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Kala itu, proses spooring mobil diserahkan ATPM ke pihak lain. Heri kemudian mengajukan diri menjadi vendor.

Mulanya Heri mengambil orderan. Ia juga sempat mengerjakannya secara langsung di lokasi bengkel ATPM. Namun, itulah yang akhirnya membuat usahanya besar. Kini tak kurang dari 200 cabang HRA yang dimiliki di seluruh Indonesia.

Bisnisnya pun berkembang menjadi lebih kompleks. Kini, perusahannya melakukan nyaris semua jenis perawatan mobil hingga penjualan spare part dan aksesoris.  Dengan nada bercanda, Heri berkata, “Kini usaha saya dari UKM menjadi UKM. Usaha kecil menengah menjadi usaha kecil miliaran.”

TAHU TUJUAN HIDUP SEJAK AWAL

Heri kini memimpin HRA Group yang diawali dari sebuah bengkel. Ternyata hal itu sudah diimpikannya sejak kecil. Bahkan, nama HRA telah dibayangkannya kala dirinya baru berusia lima tahun.

Heri mengisahkan dulu melihat truk dengan beragam tulisan. Satu yang diingatnya adalah tulisan truk Dinoyo Putra. Dengan polos, ia menulis HRA yang dimaksudkan sebagai kependekan dari Heri, Rudi, Andri. Dua nama terakhir merupakan kakak-kakaknya.

Namun, ternyata itu sebuah intuisi yang dimiliki Heri. Ia akhirnya mendirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) dengan nama HRA. Lagi-lagi kuasa Tuhan terlihat. Saat itu, ketika ingin terus bekerjsama sebagai vendor, ATPM membutuhkan faktur pajak dari perusahaan yang berbadan hukum. Mau tak mau ini membuat Heri mendirikan PT.

Ia kemudian bekerjasama dengan dua orang bernama Romadi dan Moh. Ali. Nama PT yang dimilih akhirnya Heri Romadi Ali. Namun, entah kenapa, notarisnya merasa kesulitan mengingat nama tersebut sehingga akhirnya nama HRA kembali muncul. Ternyata itulah takdir bagi Heri.

IMG_20170517_154743

Tahu persis kemauannya, Heri pun mengelola bisnisnya dengan serius. Ia menerapkan standar tinggi di perusahaannya sembari melakukan berbagai terobosan kreatif. Heri tak mau semuanya standar saja. Sebab, ia merasa dirinya adalah sosok yang anti-mainstream.

Itu sudah terlihat sejak lama. Heri bisa tidak suka kepada satu hal jika itu sudah populer. Ia pun tak segan mempersoalkan teori yang sudah dianggap benar. Singkat kata, ia selalu berpikir di luar kebiasaan yang lain.

Heri membuktikannya kala sempat berkuliah di jurusan finance dan bisnis. Padahal, itu dia bidang yang sangat dibencinya. Namun, ia mau melakoninya karena memandangnya sebagai langkah penting bagi dirinya. “Ilmunya bisa menjadi cadangan,” tegasnya.

Belakangan ia merasakan manfaatnya. Sangat tahu persis dunia otomotif, Heri juga tak gagap dalam manajerial. Pasalnya, menurutnya, sumber daya manusia dipadangnya sebagai yang utama dalam semua jenis usaha.

Ini pula yang membuatnya melakukan langkah tak lazim. Heri melakukan tes psikologi ke para karyawan bengkelnya. Putusan ini tak biasa karena banyak di antaranya adalah pekerja kerah biru seperti montir dan tukang cuci mobil.

Namun, Heri berkeras melakukannya meski harus mengeluarkan biaya ekstra. Semua demi standarisasi kualitas karyawan. Pasalnya, selain harus punya kapasitas mumpuni dalam satu profesi, aspek mentalitas juga sangat penting bagi seorang karyawan.

TERUS KREATIF

Saat ini, HRA Group mempekerjakan sekitar 1.100 karyawan. Bisnisnya pun sudah berkembang. Tidak hanya terkait dunia otomotif, Heri punya SPBU dan Rest Area. Namun, terkait bengkel, HRA masih eksis dan punya nama besar.

Kiatnya ternyata adalah kreativitas. Heri sampai menyebut dirinya bergulat di bisnis kreatif meski berurusan dengan oli dan mesin. Baginya, kunci sukses adalah kejelian menghadirkan pelayanan dan hasil pekerjaan yang luar biasa. Untuk mencapainya, pihaknya dituntut bertindak unik.

Maka, Heri menetapkan standar tinggi bagi pekerjanya. Ia ingin perusahaannya memberikan pelayanan dan hasil terbaik, tidak cukup 100 persen, namun lebih dari itu. Tapi, Heri memberi kompensasi yang besar. Selain kesejahteraan karyawan HRA Group sangat baik, ia juga rela membagi sepuluh persen sahamnya ke karyawan.

“Ini berbeda dengan bonus yang berdasarkan kinerja per orang. Jumlah yang diperoleh rata dari karyawan level atas hingga terbawah. Semua tergantung dari penghasilan yang diperoleh pada tahun itu,” kata Heri.

Kemampuan manajemen apik itu tak lepas dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang diikutinya sejak 2006. Ia merasa mendapat manfaat positif ketika bergabung ke sana. Heri belajar banyak hal karena Astra merupakan sebuah perusahaan besar yang berpegang kepada riset. Maka, Heri menganggapnya sebagai gudang ilmu.  Selain itu, YDBA juga memungkinkannya memperluas jejaring. Ini sangat penting bagi perkembangan HRA Group.

Tak aneh, HRA Group kini telah berkembang menjadi usaha dengan omzet miliaran rupiah. Semua berkat “manajemen Tuhan” yang diikuti oleh Heri. Itulah yang mampu mewujudkan impian masa kecilnya menjadi nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s