Manchester United v Birmingham City - Premier League

Saat masih aktif bermain, Ryan Giggs dijuluki Welsh Wizzard. Julukan itu merujuk kepada negara asalnya, Wales, serta permainannya yang khas.

Bersama Red Devils, Giggs biasa berperan sebagai gelandang kiri. Dengan kaki kiri, dia menggiring bola meliuk-liuk melewati lawan-lawannya. Gerakan Giggs susah dihentikan karena begitu cepat laksana kilat. Itulah yang mendasari sebutan Welsh Wizzard lekat kepada pria yang lahir pada 29 November 1973 ini.

Tipe permainan Giggs sangat mengandalkan kekuatan fisik. Kecepatan lari yang dimilikinya merupakan tanda kebugaran tubuh yang prima. Tanpa itu, mustahil seorang pesepak bola dapat berlari dengan kencang.

Ketika masih muda, Giggs tidak perlu bersusah payah memeragakannya. Energi dan kekuatannya tak terbatas. Namun, ketika umurnya semakin tua, gaya permainannya bisa menjadi masalah tersendiri. Penambahan usai otomatis akan mengurangi kekuatan fisik.

Padahal, dalam sepak bola, lazim sekali pemain yang hanya mengandalkan “tubuh” rata-rata tidak akan berkarier lama. Hal itu alamiah karena kekuatan fisik pasti akan berkurang ketika umur bertambah. Tak aneh, Giggs pernah diprediksi tidak akan bisa menjaga level permainan. Bahkan, banyak yang ragu Giggs bisa bermain hingga tua.

Akan tetapi, kenyataan yang ada berbeda dari perkiraan. Giggs membalikkan semua prediksi. Dia mampu terus bermain hingga usai 40 tahun. Bahkan, dia bisa selalu bertahan di klub sebesar Manchester United selama 23 musim berturut-turut.

Sejak memulai karier di Old Trafford pada musim 1991-92, Giggs terus bermain di hingga musim 2013-14. Selama itu, dia mencatatkan 632 penampilan untuk Red Devils ketika melakoni debut pada 15 Agustus 1992 hingga laga terakhir pada 6 Mei 2014. Itulah rekor pemain yang tampil terbanyak untuk Manchester United.

Lebih hebat lagi, Giggs selalu mampu menjadi pilihan utama bagi Red Devils. Sekian banyak prestasi dia raih. Dialah satu-satunya pemain yang selalu merasakan 13 titel juara era Premier League yang diraih Manchester United. Selain itu, Giggs menambahinya dengan empat trofi FA Cup, tiga Football League Cup, sembilan Community Shield, dua Liga Champions, serta masing-masing satu UEFA Super Cup, Intercontinental Cup, dan FIFA Club World Cup.

Jelas tidak mudah untuk melakukannya. Namun, Giggs mampu karena bisa menyiasati perkembangan umurnya dengan baik. Di atas lapangan, Giggs sedikit demi sedikit meningkatkan kemampuannya untuk bermain dengan “kepala”. Hal ini membuatnya tidak hanya terpaku di sisi kiri.

Giggs akhirnya bisa bermain lebih ke tengah. Ini tetap membuatnya menjadi pemain vital untuk Manchester United. Terbukti, hingga kini Giggs masih menyandang rekor sebagai pemain dengan jumlah assist terbanyak di Premier League sepanjang sejarah berkat 271 assist yang dibukukan.

Akan tetapi, hal yang tak kalah krusial ialah kemampuan Giggs untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Giggs mempunyai trik yang unik untuk menjaga kondisi fisiknya agar selalu prima. Hal yang dilakukannya tidak akan disangka-sangka oleh siapa pun, yakni yoga.

“Yoga jelas sangat membantu (menjaga kebugaran, Red.),” kata Giggs kepada La Gazzetta dello Sport. “Hal itu menolongku untuk berlatih setiap hari karena memberikan fleksibilitas serta kekuatan (tubuh), bukan hanya untuk bermain tapi juga berlatih setiap hari.”

Giggs 2 -Sports Yoga

BERAWAL DARI CEDERA

Giggs mulai menekuni yoga pada November 2001. Dia melakukannya karena terkena cedera hamstring sebelum bertanding melawan Bayern Muenchen di Liga Champions pada 19 November 2001.

Problem itu membuat Giggs frustrasi karena cedera hamstring membutuhkan pemulihan yang lama. Dia terus memikirkannya karena sadar usainya sudah mendekati 30 tahun. Dalam usia itu, pesepak bola biasanya mulai mengalami penurunan performa, namun Giggs tak mau merasakannya.

Sepekan kemudian, seorang fisioterapis Manchester United akhirnya mempertemukannya dengan seorang praktisi yoga bernama Louise. Giggs mau menemuinya karena sangat menginginkan kebugaran tubuh lewat berbagai cara, termasuk yoga yang kerap dianggap sebagai olahraga feminim.

“Fisioterapis membawanya kepada saya,” kenang Giggs. “Saya ingin mendapatkan semua sudut pandang. Jadi, saya segera menemuinya dan berbicara kepadanya. Saya menceritakan masalah saya dan dia berkata, ‘Iya, datanglah minggu depan.’.”

Sejak saat itu, Giggs mulai melakukan yoga. Dia pun merasakan manfaatnya. Tubuhnya kian bugar dan otot-ototnya semakin lentur. Maka, Giggs rutin menjalaninya. Dia bahkan selalu menyempatkan diri beryoga sebelum berlatih. “Latihan biasa dimulai pukul 10.30. Saya pasti sudah di sana 20 menit sebelumnya,” ujar Giggs.

Sesudah menekuni yoga, cedera kian jarang dialami oleh Giggs. Bahkan, kondisi fisiknya tetap stabil meski umur bertambah. Tercacat, sesudah musim 2000-01, hanya dalam dua musim terakhirnya sebelum pensiun, Giggs tidak mencatatkan penampilan minimal 25 kali di Premier League bersama Manchester United.

Giggs mau bekerja ekstra dengan melakukan yoga karena merasa dirinya “rakus”. Namun, “keserakahan” yang dimilikinya berada dalam konteks positif. Sejak bisa bermain di klub sebesar Manchester United dan memenangi sekian banyak trofi, Giggs selalu ingin merasakannya terus.

“Ketika muda, targetku hanya bermain untuk Manchester United. Itu saja. Namun, sesudahnya, saya mulai serakah. Saya selalu ingin berada di dalam tim dan mencetak gol,” kata Giggs.

Hasrat besar itulah yang motivasi tersendiri bagi Giggs untuk bermain di level tertinggi selama mungkin. Dia pun bisa melakukannya dengan berlaga hingga usai 40 tahun di Manchester United. Tak aneh, Giggs dianggap menjadi simbol keabadian seorang pesepak bola.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s