Ferguson - Huffington Post

Alex Ferguson memang manajer fenomenal yang legendaris. Selain kisah kejayaan bersama dengan Manchester United, ia meninggalkan “warisan” dengan melahirkan istilah Fergie Time yang terus dipakai hingga kini.

Apakah sebenarnya Fergie Time tersebut? Sejatinya sebutan ini merujuk kepada jumlah waktu tambahan yang diberikan wasit pada babak kedua. Orang biasa mengenalnya sebagai injury time.

Masa-masa tersebut merupakan momen krusial. Apalagi ketika sebuah tim tengah tertinggal atau tengah berupaya mengejar kemenangan. Setiap detik waktu tambahan yang diberikan akan sangat berharga bagi mereka.

Manchester United kerap berada dalam posisi tersebut. Namun, mereka berhasil menggagalkan kemenangan lawan atau malah memenangi pertandingan dengan gol pada masa injury time. Hal itu yang memicu kelahiran istilah Fergie Time.

Awal mulanya adalah gol yang dicetak Steve Bruce kala Manchester United menjamu Sheffield Wednesday pada pekan ke-38 Premier League musim 1992-93. Dalam laga yang dilangsungkan pada 10 April 1993 tersebut, Bruce membuat gol pada injury time. Gol tersebut memastikan The Reds meraih trofi juara Liga Inggris pertamanya dalam 26 tahun terakhir.

Gol Bruce menjadi kontroversi karena jumlah waktu tambahan yang diberikan dalam pertandingan tersebut. Wasit John Hilditch memberikan masa ekstra selama tujuh menit dan 16 detik. Lama waktu itu dinilai memberi kesempatan kepada Bruce untuk mencetak gol keduanya.

Sejak saat itu, media gemar menyebut Fergie Time ketika masa injury time tiba dalam laga Manchester United. Ferguson dinilai menekan wasit untuk memberikan waktu tambahan lebih panjang dari yang seharusnya. Akibatnya Fergie Time dianggap sebagai sebuah langkah untuk menguntungkan The Reds ketika tengah tertinggal atau seri.

“Mulai saat itu, setiap kali Manchester United mendapat waktu injury time yang dirasa lebih banyak, publik langsung ‘menandainya’. Mereka kemudian berkata, ‘Oh, Manchester United memperoleh Fergie Time lagi/’’, kata analis dari Opta Sports, Duncan Alexander.

Namun, mantan wasit legendaris Inggris, Graham Poll menepis tudingan miring tentang Fergie Time. Menurut Poll tidak ada niat bagi anggota korps baju hitam untuk memberi perlakukan spesial terhadap Manchester United, apalagi sengaja menguntungkan mereka.

“Kalian (media, Red.) menyebarkannya seperti mitos populer hanya karena iri terhadap kesuksesan Manchester United,” tandas Poll.

Fakta yang ada waktu tambahan ekstra memang tidak hanya dinikmati oleh Manchester United. Tim-tim lain juga mendapatkannya. Sebuah riset yang dilakukan oleh Opta memperlihatkannya. Sejak era Premier League dimulai pada 1992-93 hingga Ferguson pensiun pada 2012-13, The Reds ternyata bukanlah penerima waktu tambahan terlama.

Opta mendata waktu tambahan yang diperoleh tim besar Premier League lain selain Manchester United pada babak kedua. Injury time yang diperoleh oleh Liverpool, Arsenal, Chelsea, Manchester City, dan Tottenham Hotspur ketika tengah tertinggal dicatat. Hasilnya tidak ada konsistensi bahwa The Reds selalu memperoleh yang terlama.

Supaya lebih relevan dengan kondisi terbaru, Opta mengerucutkan penelitian pada rentang waktu musim 2010-11 hingga 2012-13. Kala itu, The Reds rata-rata memperoleh waktu esktra selama empat menit dan 37 detik ketika tengah tertinggal. Sedangkan, saat sudah unggul, mereka mendapatkan tambahan waktu tiga menit 18 detik.

Namun, catatan tersebut dinilai oleh Alexander mencerminkan bahwa ada keuntungan yang diperoleh Manchester United. Sebab, pola serupa dialami tim-tim besar lain.

“Anda bisa melihat, ketika tengah tertinggal, semakin banyak waktu tambahan yang didapatkan. Bagi tim-tim besar lain, kecuali Chelsea, rata-rata memang memperoleh injury time lebih lama saat berada di posisi yang sama,” papar Alexander kepada BBC.

Sebuah simpulan akhirnya dapat ditarik. Waktu tambahan yang lebih memang cenderung diberikan kepada tim besar ketika tengah tertinggal. Hal itu diperkuat oleh hasil riset yang dilakukan oleh Decision Technology dalam kurun waktu yang sama.

Mereka menemukan bahwa saat tim besar menang, waktu tambahan menurun 46 detik. “Jika sebuah tim kuat tertinggal di kandang, mereka mendapatkan injury time lebih lama dibanding situasi serupa di laga tandang,” papar Gabriella Lebrecht  dari Decision Technology.

Ferguson - Talksports

Akhirnya fakta lain terungkap. Poll mengakui wasit bisa merasa tertekan oleh suporter. Hal itu dinilainya sangat manusiawi.

“Ada tekanan yang dirasakan dan hal tersebut terlihat nyata. Anda bisa merasakannya saat wasit berada di atas lapangan. Sebuah tim ingin menciptakan comeback,” ujar Poll.

FIFA memang tidak memberikan aturan baku tentang masa injury time. Semua terpulang terhadap penilaian wasit sebagai pengadil dalam pertandingan. Hal ini yang dinilai ikut berpengaruh terhadap kehadiran waktu tambahan yang dirasa terlalu lama.

“Anda berada di tengah lapangan dan berpikir, ‘Oke, ada beberapa pergantian, gol, trik buang waktu, hingga cedera. Mungkin tiga atau empat menit cukup. Kemudian tanpa sadar dari mulut Anda keluar angka lima.’”, papar Poll.

Tak aneh, perdebatan tentang keberadaan Fergie Time terus berlanjut hingga sekarang. Namun yang jelas, Ferguson mengakui hal tersebut sebagai bagian dari permainan di atas lapangan.

Ferguson memang dikenal sebagai sosok manajer yang lihai memainkan perang urat syaraf. Ia bahkan telah mengajak tim lawannya “bertanding” jauh hari sebelum laga dimulai. Caranya bisa saja dengan mengeluarkan pernyataan kontroversial tentang apa saja, mulai dari prediksi jalannya pertandingan hingga kondisi tim lawan.

Saat berlaga pun, ia  juga melakukannya. Fergie Time merupakan buah dari aksi Ferguson di atas lapangan. Dalam pertandingan, ia biasa berdiri di pinggir lapangan sambil melihat ke jam tangannya. Belakangan ia mengakuinya sebagai trik untuk memengaruhi pikiran wasit dan tim lawan.

“Itulah kenapa saya selalu menengok ke jam tangan. Saya sesungguhnya tidak melihatnya, saya tidak tahu persis berapa menit… (waktu tambahan yang seharusnya diperoleh, Red.),” ujar Ferguson kepada Clare Balding dalam acara BT Sport Christmas Day Special.

Tidak disangka, trik tersebut sukses memengaruhi lawan dan wasit. Apalagi ketika tengah berlaga di Old Trafford. Fans yang memenuhi stadion bisa menghadirkan tekanan tersendiri.

Maka, pada jeda pertandingan, Ferguson mengaku selalu menekan anak didiknya supaya sabar dan tidak panik. Baru dalam 15 menit terakhir, ia akan membiarkan mereka melakukan apa pun.

“Saya seorang ‘penjudi’, mendorong badan ke depan untuk mengambil ‘perjudian’. Itu tidak selalu berhasil, namun seringkali sukses,” kata Ferguson.

Terlepas dari itu, Fergie Time memperlihatkan mentalitas kuat yang dimiliki oleh Manchester United. Mereka tidak pernah menyerah hingga detik terakhir. Semua upaya akan dilakukan sampai wasit benar-benar meniup peluit tanda pertandingan usai.

Terbukti banyak sekali gol yang diciptakan oleh Manchester United pada injury time. Pada 2009, Federico Macheda mencetak gol pada menit ke-93 untuk memenangi laga melawan Aston Villa. Laga yang berakhir dengan skor 3-2 tersebut membuat The Reds memegang kendali trofi juara Premier League.

Selain itu, pada tahun yang sama, Michael Owen mencetak gol pada detik terakhir untuk mengalahkan Manchester City. Saat itu, wasit memberikan waktu tambahan selama tujuh menit.

Alhasil, jika ditotal sampai Desember 2016,  Manchester United mencetak 18 gol pada masa injury time di Premier League. Fakta itu memperlihatkan kekuatan mental skuat The Reds yang mendasari kehadiran Fergie Time.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s