Sepp Blatter FIFA

Beberapa waktu lalu, dunia digegerkan oleh skandal korupsi yang menerpa FIFA. Kasus itu sampai membuat para petinggi otoritas sepak bola tertinggi di dunia ditangkap kepolisian ataupun terpental dari jabatannya. Sosok tenar dan kuat di dunia sepak bola seperti Sepp Blatter hingga Michel Platini pun tidak mampu menghindar.

Kebenaran tentang korupsi di tubuh FIFA masih dalam penyelidikan. Namun, sejatinya ini bukan dugaan baru. Sejak lama aroma korupsi di dalam FIFA sudah diendus oleh khalayak. Tidak sedikit para jurnalis yang sudah mencoba untuk menguak skandal memalukan tersebut.

Lagi-lagi kebenarannya masih perlu pembuktian. Pihak berwajib tengah mengkaji dan melakukan penyelidikan untuk mendalami kasus ini. Namun, insan sepak bola di seluruh penjuru dunia wajib mengintrospeksi diri terhadap kasus korupsi yang melanda FIFA.

Sedikit banyak, korupsi di tubuh FIFA dimulai dari komersialisasi sepak bola yang tumbuh pesat. Hal itu terkuak dari investigasi jurnalis asal Inggris, Andrew Jennings yang dituangkan dalam buku The Secret World of FIFA. Dia mengungkap bahwa terdapat pihak-pihak yang menaruh kepentingan besar di sana sehingga mendorong FIFA menjadi organisasi korup.

Awal mulanya adalah kesadaran FIFA bahwa sepak bola merupakan tambang uang yang sedemikian dahsyat. Sebelumnya organisasi ini tidak menyadarinya. Penulis buku Soccernomics, Simon Kuper pernah menyebut insan sepak bola sebagai orang yang bodoh karena tidak menyadari nilai tinggi di si kulit bulat. Kuper bahkan menyatakan dibanding olahraga lain seperti bola basket dan American Football, sepak bola terbilang terlambat untuk dikomersialisasi.

Kuper memberi contoh sederhana. Keberadaan sponsor kostum maupun lisensi perlengkapan bermain sepak bola baru  diimplementasikan secara serius para era 1970-an. Hal itu jauh lebih lambat dibanding masa olahraga lain seperti baseball dan bola basket mempraktikkannya.

FIFA pun telat menyadari nilai komersial sepak bola. Padahal, sebagai olahraga terpopuler di dunia, value sepak bola sangatlah tinggi. Mereka bahkan sampai membutuhkan “mentor” untuk membuka mata.

Jennings menyebut sosok anak pendiri salah satu raksasa perlengkapan olahraga, Adidas, Horst Dassler sebagai “guru” bagi FIFA. Dalam bukunya, Jennings menyebut Dassler sebagai orang punya visi jauh ke depan tentang nilai sepak bola. Itulah yang membuat Dassler menanamkan kukunya ke tubuh FIFA.

Menurut Jennings, Dassler yang merintis komersialisasi sepak bola. Dia menggandeng FIFA untuk bersama mengeksploitasi segi komersial dari si kulit bulat. Tentu saja Dassler juga berkepentingan untuk membesarkan Adidas yang dikendalikannya.

Untuk melakukannya, Dassler disebut Jennings memasang orang-orang kunci di dalam tubuh FIFA. Secara khusus, orang terkenal mulai dari Joao Havelange dan Blatter disebut sebagai “partner”akrab Dassler. Sampai-sampai mereka disebut sebagai para boneka Dassler.

 

KESADARAN TENTANG NILAI KOMERSIAL SEPAK BOLA

Atas tuntunan Dassler, mata FIFA mulai terbuka. Mereka mulai tahu cara memanfaatkan value sepak bola. Piala Dunia merupakan langkah pertama. Di ajang kompetisi antarnegara teakbar di dunia ini, FIFA mulai mendapatkan uang besar. Caranya mereka mengomersialisasi kompetisi dengan melisensi hak komersial maupun menjalin kesepakatan dengan para sponsor. Adidas tentu saja menjadi partner utama FIFA dalam hal tersebut.

Kini, dalam perkembangannya, Piala Dunia semakin moncer. Uang yang didapat FIFA dari sana kian meningkat. Hal itu semakin meledak ketika siaran televisi mulai meledak pada era 1980-an. Pundi-pundi uang FIFA bertambah besar saja.

Akhirnya mata FIFA terbuka. Mereka jadi tahu bahwa sepak bola bernilai tinggi. Alhasil, beragam hal dalam organisasi maupun sepak bola secara umum dimanfaatkan secara maksimal untuk menuai untung. Hasilnya pun bisa dilihat sendiri. Pundi uang di tubuh luar biasa besar. Hanya dari Piala Dunia 2014 saja, FIFA diklaim oleh Financial Times meraup revenue 7,5 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp78,4 triliun).

Sayang sekali, seperti lelaki yang bisa tergoda dengan melihat wanita cantik, para petinggi FIFA pun silau dengan uang berlimpah yang ada di dalam organisasi. Alhasil, mereka pun berupaya menikmati “kuenya” sebesar mungkin. Terkadang cara untuk mendapatkannya pun ilegal seperti melakukan korupsi.

Sungguh disayangkan. Padahal, komersialisai sepak bola tidak sepenuhnya salah. Dengan hal tersebut, sepak bola punya modal untuk berkembang pesat menjadi olahraga terpopuler. Bahkan, FIFA dapat menjadi organisasi olahraga terbesar di dunia yang mungkin mengalahkan IOC.

Akan tetapi, uang berlimpah memang merupakan godaan yang sulit untuk ditampik bagi siapa pun. Hal ini pula yang mungkin membuat para petinggi FIFA sampai lupa diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s