Bima Sakti 1

Bima Sakti Tukiman adalah satu satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Ia meraih sukses di tingkat klub sehingga dipercaya membela timnas Indonesia. Di balik itu, ada kisah mengenai jam tangan dan cengkeraman tangan yang membantunya meraih kesuksesan.

Bima lahir di Balikpapan pada 23 Januari 1976. Kariernya di sepak bola Indonesia sangat mengilap. Sebelum pensiun, ia merupakan langganan Skuat Garuda. Tak aneh, sejak tahun 1995 hingga 2001, Bima dipercaya untuk berkostum merah putih khas timnas Indonesia sebanyak 56 kali.

Pencapaian itu membuatnya masuk ke peringkat keenam dalam daftar pemain yang paling tampil bersama timnas Indonesia. Selama itu, Bima juga sempat dipercaya sebagai kapten Skuat Garuda.

Kesuksesan itu tak lepas dari penampilan apiknya bersama klub. Sebelum pensiun sebagai pemain di Persiba Balikpapan pada 2016 lalu, ia tercatat pernah membela PKT Bontang, Pelita Jaya, PSPS Pekanbaru, Persema Malang, Persepar Palangkaraya, Mitra Kukar hingga Persegres Gresik.

Namun puncak performanya di level klub diraih bersama PSM Makassar. Di klub yang dibelanya sejak 1999 hingga 2001 itu, Bima pernah meraih gelar juara Liga Indonesia. Ia merebutnya pada 1999-2000. Pencapaian itu membuat Bima terpilih sebagai Pemain Terbaik Liga Indonesia pada musim tersebut.

Selain bermain di dalam negeri, Bima termasuk segelintir pemain Indonesia yang mencicipi sepak bola Eropa. Pertama kali ia melakukannya pada 1993 ketika dipercaya masuk skuat tim Primavera di Italia. Karena tampil apik di sana, ia digaet oleh Helsingborg IF di Swedia.

Bisa mencicipi sepak bola Eropa menjadi bekal berharga bagi Bima. Ia banyak mendapatkan pelajaran penting dalam meniti karier. Salah satunya tentang disiplin diri.

Bima mengisahkan kala itu ia bersama rekan satu tim diminta bertemu dengan pelatih untuk pertama kalinya. Saat itu, sang pelatih memberinya jam tangan. Bima mengingat jam itu bermerek Tissot.

Bima jelas senang, namun di balik itu ia bingung mengapa diberi jam. Ternyata sesudah itu sang pelatih meminta semua pemain mencocokkan waktu dengan jamnya. Rupanya ia ingin semua pemain bisa menepati waktu. Jam tangan itu menjadi panduan.

“Jadi, tidak boleh ada keterlambatan sama sekali. Saat berlatih harus berlatih. Ketika makan juga sama,” kenang Bima.

Hal itu sangat membekas di dalam hati Bima. Ia jadi tahu arti penting disiplin. Tanpa itu mustahil kariernya di lapangan hijau bisa mulus.

Bima Sakti 2

CENGKERAMAN TANGAN

Pengalaman berharga yang diperolehnya bersama Helsingborg bukan hanya terkait disiplin diri. Di sana Bima belajar tentang arti totalitas di atas lapangan.

Ia tidak mengalaminya dengan manis. Kala itu, Bima sedang menjalani sesi latihan dengan bertanding bersama rekan satu tim. Suatu saat ia berhadapan dengan kapten tim, Roland Nilsson. Karena segan, Bima tidak mengadangnya dengan serius.

Tiba-tiba Nilsson marah dan mencengkeram kerah bajunya. Ia menghardik Bima karena tidak serius mengadangnya. Bima kemudian tersadar. Akhirnya mengubah permainannya. Di atas lapangan, ia berlaga mati-matian. Sampai-sampai, keesokan harinya ia sempat menerjang Nilsson hingga kakinya berdarah.

Namun, alih-alih marah, Nilsson malah membelai kepalanya. “Ia bilang seharusnya bermain seperti ini,” kata Bima. Ia memaparkan Nilsson ingin latihan mirip seperti pertandingan sehingga tidak akan gagap ketika berduel di laga sesungguhnya. “Ia juga mengatakan agar saya membawa semangat ini ke sepak bola Indonesia,” kenang Bima.

Bima memegang teguh nasihat Nilsson. Ia pun selalu serius berlatih dan menjaga diri. Akibatnya, ia mampu berkarier hingga usia 40 tahun. Sebuah pencapaian langka bagi pemain di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s